SURABAYA — Ketua Umum DPP Pengajian Al Hidayah, Dr. Ir. Hetifah Sjaifudian, MPP, meminta kepengurusan baru DPD Pengajian Al Hidayah Provinsi Jawa Timur untuk memperkuat organisasi hingga ke tingkat daerah serta menghadirkan program-program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Hetifah saat mengukuhkan Hj. Atika Banowati, S.H. sebagai Ketua DPD Pengajian Al Hidayah Provinsi Jawa Timur periode 2025–2030 dalam rangkaian Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pengajian Al Hidayah Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Hetifah mengapresiasi soliditas jajaran Pengajian Al Hidayah yang selama ini terus aktif menjalankan berbagai kegiatan keagamaan, sosial, dan pemberdayaan perempuan. Menurutnya, Al Hidayah telah berkembang menjadi salah satu organisasi perempuan yang memiliki eksistensi kuat di berbagai daerah.

Ia juga memberikan apresiasi kepada Atika Banowati dan jajaran pengurus Jawa Timur yang dinilainya telah bekerja melakukan konsolidasi organisasi meskipun proses pengukuhan baru dilaksanakan.

“Walaupun baru dikukuhkan, saya tahu Ibu Atika dan seluruh jajaran sudah bekerja cukup panjang. Masyarakat akan terus melihat apa yang kita kerjakan bersama, karena itu organisasi harus terus bergerak dan terbuka untuk semua kalangan,” ujarnya.
Hetifah menegaskan bahwa Pengajian Al Hidayah harus menjadi ruang yang inklusif bagi perempuan dari berbagai latar belakang. Organisasi ini, katanya, tidak hanya menjadi wadah pengajian, tetapi juga tempat belajar, mengabdi, dan membangun kepemimpinan perempuan.
Menurutnya, kekuatan Al Hidayah terletak pada majelis ilmu dan persaudaraan yang selama ini menjadi fondasi organisasi. Dari kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan lahir perempuan-perempuan yang memiliki kepedulian sosial, kemampuan memimpin, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Pengajian itu bukan hanya memberikan pemahaman agama yang menyejukkan, tetapi juga menumbuhkan empati dan kepedulian sosial. Nilai-nilai itulah yang harus terus ditumbuhkan di tengah masyarakat,” katanya.
Hetifah juga mengingatkan bahwa kondisi sosial dan ekonomi masyarakat saat ini membutuhkan perhatian bersama. Karena itu, program-program Al Hidayah harus disusun berdasarkan kebutuhan nyata yang dihadapi masyarakat di berbagai daerah.
Menurutnya, banyak persoalan yang dapat menjadi ruang pengabdian organisasi, mulai dari pendidikan, pemberdayaan ekonomi perempuan, pengembangan usaha mikro, peningkatan kompetensi digital, kesehatan keluarga, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.
“Di satu daerah mungkin ada keluarga yang membutuhkan pendampingan pendidikan. Di tempat lain ada perempuan yang sedang merintis usaha. Ada juga kelompok perempuan yang ingin meningkatkan kemampuan teknologi dan digitalisasi. Semua itu bisa menjadi ruang pengabdian Al Hidayah,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Hetifah menyampaikan tiga pesan utama kepada jajaran Pengajian Al Hidayah Jawa Timur.
Pertama, memperkuat organisasi hingga ke tingkat daerah bahkan desa-desa. Ia meminta pengurus kabupaten dan kota membangun komunikasi yang teratur serta memperluas jaringan organisasi agar semakin dekat dengan masyarakat.
Kedua, menghadirkan kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Menurutnya, kepedulian sosial harus menjadi identitas utama Al Hidayah sehingga kehadirannya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.
Ketiga, menjaga amanah organisasi. Seluruh pengurus diminta menjaga integritas dan nama baik organisasi karena kepercayaan masyarakat merupakan modal utama dalam menjalankan berbagai program.
Selain itu, Hetifah mendorong agar Al Hidayah memberikan ruang yang lebih besar bagi generasi muda untuk terlibat dalam organisasi. Menurutnya, keterlibatan perempuan muda sangat penting mengingat komposisi penduduk Indonesia ke depan akan didominasi generasi muda.
Untuk itu, pemanfaatan teknologi digital dan media sosial perlu terus ditingkatkan agar organisasi mampu menjangkau lebih banyak kalangan, khususnya generasi muda.
“Perempuan muda harus mulai diajak aktif dalam kegiatan Al Hidayah. Salah satu caranya adalah memanfaatkan teknologi dan media sosial sebagai sarana komunikasi, edukasi, dan dakwah,” katanya.
Di hadapan pengurus dari 32 kabupaten dan kota se-Jawa Timur yang hadir, Hetifah juga mengingatkan pentingnya menyusun program kerja yang realistis, terukur, dan berkelanjutan. Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak ditentukan oleh besarnya program, melainkan oleh konsistensi dalam pelaksanaannya.
“Program tidak harus mahal atau mewah. Yang penting program itu bisa dilaksanakan dengan baik, memiliki manfaat nyata, dan dilakukan secara berkelanjutan. Jika itu dilakukan, dampaknya akan lebih besar bagi masyarakat,” tegasnya.
Menutup sambutannya, Hetifah mengajak seluruh pengurus untuk menjaga semangat kebersamaan dan musyawarah dalam menjalankan organisasi. Ia meyakini Pengajian Al Hidayah Jawa Timur mampu menjadi organisasi perempuan yang semakin kuat, solid, dan memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat.
“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, kebijaksanaan, dan kekuatan kepada seluruh pengurus untuk menjalankan amanah organisasi. Mari bersama-sama menghadirkan manfaat bagi umat, masyarakat Jawa Timur, dan Indonesia,” pungkasnya.














Komentar