oleh

Dishub Jatim Dorong Pengembangan Pelabuhan dan Bandara, Perkuat Konektivitas Menuju Gerbang Dunia

banner 468x60

SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong penguatan konektivitas transportasi laut dan udara untuk meningkatkan daya saing daerah sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara menuju pasar dunia. Strategi tersebut diarahkan melalui pengembangan pelabuhan berstandar internasional, optimalisasi jalur penyeberangan, pembukaan rute penerbangan baru, hingga peningkatan kapasitas bandara di berbagai wilayah.

Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Nyono, S.T., M.T., IPU, menyampaikan strategi tersebut dalam Sarasehan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur bertajuk “Gerbang Baru Nusantara: The Next Level – Menguatkan Peran Jawa Timur, Menggerakkan Kemajuan Indonesia, Menuju Gerbang Dunia” yang digelar di atas KRI Makassar 590, Selasa (13/10/2026).

banner 336x280

Dalam paparannya, Nyono menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki posisi strategis sebagai pusat konektivitas nasional, terutama dalam mendukung distribusi logistik dan mobilitas masyarakat dari wilayah barat menuju kawasan timur Indonesia.

Menurutnya, infrastruktur transportasi Jawa Timur telah berkembang dengan baik. Namun, untuk mencapai tahap berikutnya atau the next level, diperlukan penguatan konektivitas yang terintegrasi, efisien, berkelanjutan, dan berstandar internasional.

“Jawa Timur secara konektivitas sudah sangat bagus. Jawa Timur menjadi center of gravity. Sekarang kita ingin naik ke next level, bagaimana Gerbang Baru Nusantara ini bisa kita wujudkan dalam tiga sampai empat tahun ke depan,” ungkap Nyono.

Pengembangan Tanjung Perak Jadi Kunci Efisiensi Logistik

Pada sektor transportasi laut, Nyono menyoroti pentingnya pengembangan Pelabuhan Tanjung Perak sebagai salah satu simpul utama distribusi logistik nasional sekaligus pintu gerbang perdagangan internasional Jawa Timur.

Dalam paparannya, ia menyebutkan bahwa dari 41 rute pelayaran laut yang menjadi bagian jaringan konektivitas, sebanyak 25 rute terhubung melalui Tanjung Perak. Selain itu, sekitar 80 persen logistik untuk 19 provinsi di kawasan timur Indonesia disebut melalui Tanjung Perak dan Jawa Timur.

Dari sisi kinerja kepelabuhanan, arus bongkar muat barang umum atau general cargo di Pelabuhan Tanjung Perak pada 2025 mencapai sekitar 5,1 juta ton. Sementara itu, arus peti kemas tercatat sekitar 3,3 juta TEUs.

Capaian tersebut menjadi modal penting bagi Jawa Timur untuk memperkuat perannya dalam jaringan perdagangan nasional maupun internasional.

Meski demikian, Nyono menilai masih terdapat tantangan yang perlu diatasi, terutama keterbatasan kedalaman Alur Pelayaran Barat Surabaya (APBS) yang dalam paparannya disebut sekitar 13 meter pada kondisi pengerukan maksimal.

Keterbatasan kedalaman alur berpengaruh terhadap ukuran kapal yang dapat memasuki pelabuhan. Kapal berukuran besar atau mother vessel dengan kapasitas angkut sekitar 100 ribu ton belum dapat dilayani secara optimal apabila kedalaman alur tidak mencukupi.

Kondisi tersebut berpotensi membuat muatan yang seharusnya diangkut menggunakan satu kapal besar harus dibagi ke beberapa kapal yang lebih kecil. Akibatnya, biaya transportasi laut dapat meningkat dan berdampak terhadap efisiensi distribusi barang.

“Kalau kita ingin naik ke next level, Tanjung Perak harus dikembangkan menjadi pelabuhan berstandar internasional. Kapal-kapal besar harus bisa masuk sehingga biaya logistik menjadi lebih murah dan produk kita lebih kompetitif,” jelasnya.

Sebagai langkah penguatan, Nyono mengusulkan pengembangan jaringan pelabuhan yang terintegrasi dengan Tanjung Perak, termasuk melalui pengembangan Pelabuhan Probolinggo dan pelabuhan lain yang disebut dalam paparannya.

Pengembangan jaringan tersebut diharapkan dapat menjadi alternatif bagi kapal-kapal besar yang membutuhkan kedalaman alur lebih dari 13 meter sekaligus memperluas kapasitas Jawa Timur dalam melayani perdagangan internasional.

Selain pembangunan infrastruktur, penguatan investasi dan kerja sama strategis dengan operator pelabuhan serta mitra pelayaran internasional juga diperlukan untuk meningkatkan daya saing kepelabuhanan Jawa Timur.

Pelabuhan Jangkar Didorong Perkuat Konektivitas ke Indonesia Timur

Selain Tanjung Perak, Nyono menyoroti pentingnya optimalisasi Pelabuhan Jangkar di Kabupaten Situbondo sebagai simpul alternatif penyeberangan menuju Bali dan kawasan Nusa Tenggara.

Pengembangan Pelabuhan Jangkar diharapkan dapat membantu mendistribusikan arus kendaraan dan barang secara lebih merata sekaligus mengurangi kepadatan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi.

Menurut Nyono, Pelabuhan Ketapang selama ini menjadi salah satu jalur penting penyeberangan karena tingginya mobilitas kendaraan dan barang. Karena itu, diperlukan alternatif lintasan untuk meningkatkan efisiensi perjalanan dan distribusi logistik.

Salah satu langkah yang diusulkan adalah menambah frekuensi layanan long distance ferry atau penyeberangan jarak jauh pada lintasan Jangkar–Lembar.

Selain itu, sejumlah lintasan alternatif juga berpotensi dikembangkan, antara lain Jangkar–Celukan Bawang, Jangkar–Padangbai, dan Jangkar–Labuan Bajo.

Diversifikasi lintasan penyeberangan tersebut diharapkan dapat memperluas pilihan perjalanan masyarakat, memperlancar distribusi logistik, serta memperkuat hubungan ekonomi Jawa Timur dengan Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Penguatan konektivitas laut juga diarahkan pada pengembangan Pelabuhan Boom Banyuwangi untuk mendukung pertumbuhan sektor pariwisata.

Pelabuhan tersebut diharapkan dapat memperkuat konektivitas kawasan wisata Banyuwangi dengan wilayah Bali Barat dan Buleleng, sehingga membuka peluang pengembangan perjalanan wisata yang menghubungkan berbagai destinasi unggulan.

Pengembangan Pelabuhan Selatan untuk Pemerataan Ekonomi

Nyono juga menekankan pentingnya pengembangan pelabuhan di kawasan selatan Jawa Timur untuk mengurangi kesenjangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan.

Menurutnya, keterbatasan aksesibilitas menjadi salah satu faktor yang menghambat optimalisasi potensi ekonomi, perikanan, perdagangan, dan pariwisata di wilayah pesisir selatan.

Karena itu, ia mendorong pengembangan pelabuhan di Jember, Sendang Biru, dan Prigi, Kabupaten Trenggalek, agar mampu menunjang pergerakan barang dan penumpang.

Keberadaan pelabuhan tersebut diharapkan tidak hanya mendukung kegiatan logistik dan perikanan, tetapi juga membuka akses bagi kapal wisata menuju berbagai destinasi unggulan di pesisir selatan Jawa Timur.

Pengembangan konektivitas laut di kawasan tersebut memerlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, serta Kementerian Perhubungan.

Salah satu upaya yang didorong adalah pengembangan layanan pelayaran perintis untuk memperkuat akses menuju wilayah yang belum terhubung secara optimal.

Dengan meningkatnya konektivitas laut, potensi ekonomi kawasan selatan diharapkan dapat berkembang lebih cepat dan memberikan dampak terhadap pemerataan pembangunan di Jawa Timur.

Bidik 50 Juta Penumpang Pesawat per Tahun pada 2034

Di sektor transportasi udara, Nyono memaparkan strategi peningkatan konektivitas penerbangan melalui pembukaan rute baru, pengembangan bandara daerah, serta peningkatan kapasitas infrastruktur penerbangan.

Ia menyampaikan bahwa jumlah penumpang pesawat di Jawa Timur yang sebelumnya mencapai sekitar 17 juta orang per tahun kini berada pada kisaran 14 juta penumpang atau sekitar 80 persen dari tingkat sebelum pandemi COVID-19.

Ke depan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur menargetkan jumlah penumpang pesawat mencapai 50 juta penumpang per tahun pada 2034.

Untuk mendukung target tersebut, diperlukan strategi pengembangan penerbangan yang tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas bandara, tetapi juga mendorong pertumbuhan permintaan perjalanan melalui pengembangan sektor ekonomi dan pariwisata.

Nyono mendorong pembukaan rute penerbangan baru dari sejumlah bandara di Jawa Timur, termasuk Bandara Banyuwangi dan bandara daerah lainnya yang memiliki potensi pengembangan.

Pembukaan rute baru diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap transportasi udara sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi antardaerah.

Selain penambahan rute, peningkatan kapasitas sejumlah bandara melalui perpanjangan landasan pacu atau runway juga menjadi perhatian.

Salah satunya adalah Bandara Trunojoyo di Kabupaten Sumenep. Dalam paparannya, Nyono menyebut perlunya mempertimbangkan peningkatan panjang landasan pacu menjadi sekitar 2.000 meter agar bandara tersebut berpotensi melayani pesawat yang lebih besar, sesuai persyaratan teknis dan keselamatan penerbangan.

Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperkuat aksesibilitas masyarakat Madura, khususnya Sumenep, sehingga memiliki lebih banyak pilihan perjalanan udara ke berbagai kota tujuan tanpa harus terlebih dahulu menuju Surabaya.

Nyono juga mendorong pengembangan bandara perintis untuk membuka akses menuju kawasan wisata yang sulit dijangkau melalui transportasi darat.

Keberadaan bandara perintis dinilai berpotensi mendukung pengembangan destinasi wisata sekaligus memperkuat konektivitas wilayah yang memiliki keterbatasan akses transportasi.

Optimalisasi Bandara Dhoho untuk Buka Akses Kawasan Selatan

Selain Bandara Banyuwangi dan Trunojoyo, optimalisasi operasional Bandara Dhoho di Kediri juga menjadi perhatian dalam strategi penguatan konektivitas udara Jawa Timur.

Nyono menilai Bandara Dhoho perlu dioptimalkan agar dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat yang hendak menuju berbagai wilayah, khususnya kawasan selatan Jawa Timur.

Menurutnya, pengembangan bandara harus diikuti peningkatan aktivitas ekonomi yang mampu menciptakan permintaan perjalanan secara berkelanjutan.

Karena itu, diperlukan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, perdagangan, perikanan, peternakan, bisnis, pendidikan, hingga layanan bagi pekerja migran.

Pengembangan berbagai sektor tersebut diharapkan dapat meningkatkan kebutuhan perjalanan udara, baik untuk kepentingan bisnis maupun mobilitas masyarakat.

Dengan demikian, keberadaan bandara tidak hanya menjadi infrastruktur transportasi, tetapi juga dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi dan pembukaan peluang investasi baru di daerah.

Nyono menegaskan bahwa pengembangan transportasi udara harus dilakukan secara terintegrasi dengan sektor ekonomi lainnya agar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kolaborasi Perkuat Posisi Jawa Timur sebagai Gerbang Dunia

Menutup paparannya, Nyono menegaskan bahwa penguatan konektivitas transportasi laut dan udara merupakan bagian penting dari strategi meningkatkan daya saing Jawa Timur di tingkat nasional maupun internasional.

Pengembangan pelabuhan, perluasan jalur penyeberangan, pembukaan rute penerbangan, serta optimalisasi bandara daerah harus berjalan beriringan agar distribusi barang dan mobilitas masyarakat semakin efisien.

Menurutnya, Jawa Timur telah memiliki modal geografis dan infrastruktur yang strategis. Tantangan berikutnya adalah mengoptimalkan seluruh potensi tersebut melalui pengembangan jaringan transportasi yang terintegrasi dan berstandar internasional.

Untuk mewujudkannya, diperlukan sinergi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pemerintah kabupaten dan kota, badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, serta sektor swasta.

Melalui penguatan konektivitas laut dan udara, Jawa Timur diharapkan tidak hanya menjadi pusat distribusi logistik bagi kawasan Indonesia timur, tetapi juga berkembang sebagai simpul perdagangan dan mobilitas internasional.

Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari visi besar peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, yakni memperkuat peran Jawa Timur, menggerakkan kemajuan Indonesia, dan mewujudkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara menuju Gerbang Dunia.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *