SURABAYA – Pengurus Cabang Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Jawa Timur menggelar pembukaan Sertifikasi Race Director & Pelatih Lari Trail Indonesia Tingkat Dasar di Surabaya, Sabtu (11/7/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya meningkatkan profesionalisme penyelenggaraan event lari trail sekaligus mencetak pelatih yang kompeten di Indonesia.

Pembukaan kegiatan dihadiri langsung oleh Ketua Umum ALTI Pusat yang juga Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto, bersama jajaran pengurus ALTI Jawa Timur dan peserta dari berbagai daerah.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Ir. Fauzy Nasruddin, S.T., M.Sc. menyampaikan bahwa pelatihan ini merupakan salah satu kegiatan sertifikasi pertama yang diselenggarakan ALTI di Indonesia dengan antusiasme peserta yang sangat tinggi.
Untuk kategori Sertifikasi Pelatih, tercatat sebanyak 50 peserta telah melakukan registrasi. Dari jumlah tersebut, 46 peserta berasal dari Jawa Timur yang mewakili 17 pengurus cabang, sementara empat peserta lainnya berasal dari empat provinsi di luar Jawa Timur.
Sementara itu, pada kategori Sertifikasi Race Director, jumlah peserta mencapai 54 orang. Sebanyak 23 peserta berasal dari Jawa Timur yang mewakili 18 pengurus cabang, sedangkan 31 peserta lainnya berasal dari delapan provinsi di luar Jawa Timur.

“Sampai dengan tadi pagi jumlah peserta yang melakukan registrasi adalah 50 orang untuk peserta pelatih. Sedangkan untuk Race Director sejumlah 54 orang. Peserta tidak hanya berasal dari Jawa Timur, tetapi juga dari berbagai provinsi lain. Kami mohon bimbingan dan arahan dari Ketua Umum agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik,” ujar Fauzy dalam laporannya.
Melalui sertifikasi ini, ALTI berharap dapat melahirkan Race Director dan pelatih yang memiliki standar kompetensi nasional sehingga mampu menghadirkan penyelenggaraan event lari trail yang lebih aman, profesional, dan berkualitas. Selain meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, kegiatan ini juga menjadi momentum memperkuat jejaring komunitas lari trail dari berbagai daerah di Indonesia.
Sedangkan Ketua ALTI Jawa Timur Fibbryan Kusumadhana dalam sambutannya menegaskan bahwa perkembangan olahraga trail running di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, menunjukkan tren yang sangat pesat.
Meningkatnya jumlah penyelenggaraan event lari trail di berbagai daerah menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya.
Ia menyampaikan bahwa keberadaan Sertifikasi Race Director dan Pelatih Lari Trail Indonesia Tingkat Dasar merupakan langkah strategis untuk menciptakan standar kompetensi bagi penyelenggara maupun pelatih olahraga lari trail.
“Olahraga trail running saat ini berkembang sangat pesat. Berbagai event bermunculan di Jawa Timur maupun Indonesia dengan jalur pegunungan yang semakin beragam dan menantang. Karena itu, peran Race Director dan pelatih menjadi sangat penting untuk memastikan setiap kegiatan berjalan aman, profesional, dan berkualitas,” ujarnya.

Menurutnya, seorang Race Director merupakan sosok yang berada di balik suksesnya sebuah penyelenggaraan lomba. Mulai dari manajemen kompetisi, mitigasi risiko di alam terbuka, hingga penyusunan sistem perlombaan yang profesional menjadi tanggung jawab utama seorang Race Director.
Selama dua hari pelaksanaan sertifikasi, para peserta akan mendapatkan berbagai materi teknis dan manajerial yang diharapkan mampu meningkatkan kompetensi mereka dalam menyelenggarakan event maupun membina atlet lari trail.
Fibbryan Kusumadhana juga menegaskan komitmen organisasinya untuk menghadirkan standar baru dalam pengembangan olahraga trail running melalui sertifikasi yang terstruktur.
“Melalui sertifikasi ini, ALTI Jawa Timur berkomitmen penuh menciptakan standarisasi baru. Kami ingin memastikan bahwa setiap event lari trail yang diselenggarakan, serta setiap atlet yang dibina di Jawa Timur maupun Indonesia, lahir dari tangan-tangan profesional yang memiliki kompetensi dan sertifikasi resmi,” tegasnya.
Pada kesempatan tersebut, ia turut menyampaikan apresiasi kepada Ketua Umum ALTI Pusat Bima Arya Sugiarto, KONI Jawa Timur, para instruktur, narasumber, panitia, serta seluruh peserta yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Di akhir sambutannya, ia mengajak seluruh peserta mengikuti proses sertifikasi dengan sungguh-sungguh sebagai bekal untuk memajukan olahraga lari trail di Indonesia.
“Selamat belajar, selamat berdiskusi, dan selamat berproses. Tunjukkan dedikasi terbaik demi kemajuan lari trail Indonesia,” pungkasnya.
Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI), Bima Arya Sugiarto, menegaskan bahwa penyelenggaraan Sertifikasi Race Director dan Pelatih Lari Trail Indonesia Tingkat Dasar di Surabaya merupakan momentum bersejarah bagi perkembangan olahraga lari trail nasional. Menurutnya, kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam membangun standar kompetensi pelatih maupun penyelenggara event lari trail di Indonesia.
Bima Arya mengaku sengaja meluangkan waktu untuk hadir di Surabaya di tengah padatnya agenda sebagai Wakil Menteri Dalam Negeri karena menilai kegiatan tersebut memiliki nilai strategis bagi masa depan ALTI.
“Jadwal saya sebenarnya sangat padat, tetapi saya sempatkan hadir karena kegiatan ini luar biasa. Ini adalah sejarah bagi ALTI dan menjadi langkah penting untuk membangun olahraga lari trail yang semakin profesional,” ujarnya.
Ia mengapresiasi ALTI Jawa Timur yang dinilai berhasil menjadi pelopor penyelenggaraan sertifikasi nasional dengan menghadirkan peserta dari berbagai provinsi di Indonesia.
Dalam sambutannya, Bima juga memaparkan perkembangan pesat ALTI sejak kepengurusan pusat dilantik pada 7 Februari 2022. Saat itu ALTI belum memiliki kepengurusan daerah maupun pengakuan organisasi secara luas. Kini, ALTI telah berkembang hingga memiliki kepengurusan di 24 provinsi, sukses menggelar dua Kejuaraan Nasional (Kejurnas), mengikuti tiga kejuaraan dunia, serta tengah mempersiapkan cabang olahraga lari trail menuju PON NTB-NTT 2028.
Menurutnya, popularitas olahraga trail running yang terus meningkat harus diimbangi dengan peningkatan kualitas atlet maupun penyelenggara agar tidak menimbulkan persoalan keselamatan.
“Lari trail sekarang bukan hanya diterima masyarakat, tetapi sudah menjadi olahraga yang digandrungi. Namun jangan sampai orang hanya ikut-ikutan karena tren atau FOMO (fear of missing out), tanpa memahami risiko dan persiapan yang harus dilakukan,” katanya.
Bima menilai terdapat dua aspek utama yang harus menjadi perhatian ALTI, yakni peningkatan kualitas atlet dan profesionalisme penyelenggaraan event.
Dari sisi atlet, ia menegaskan bahwa pelari trail harus memiliki kesiapan fisik, mental, serta kemampuan menghadapi kondisi darurat di alam bebas. Berbeda dengan lari di jalan raya, olahraga trail memiliki tingkat risiko yang jauh lebih tinggi karena medan pegunungan menghadirkan berbagai tantangan, mulai dari cuaca ekstrem, medan sulit, hingga potensi gangguan satwa liar.
Sementara dari sisi penyelenggaraan, ia meminta seluruh Race Director mampu menerapkan standar keselamatan yang ketat, mulai dari sistem mitigasi risiko, layanan medis, komunikasi lapangan, hingga manajemen perlombaan.
“Kita tidak ingin lagi mendengar ada event yang bermasalah karena penyelenggaraannya asal-asalan. Setiap event harus memiliki standar keselamatan yang jelas agar peserta merasa aman dan olahraga ini semakin dipercaya masyarakat maupun sponsor,” tegasnya.

Bima juga menyoroti semakin banyak pemerintah daerah yang mulai menggelar event lari trail sebagai bagian dari promosi daerah dan sport tourism. Namun ia mengingatkan agar setiap kegiatan disiapkan secara profesional, bukan sekadar mengejar gengsi atau seremoni.
Menurutnya, event lari trail yang dikelola dengan baik tidak hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga mampu menggerakkan perekonomian masyarakat melalui sektor pariwisata olahraga.
“Kalau atletnya siap, penyelenggaraannya profesional, maka bukan hanya prestasi yang lahir. Event lari trail juga mampu memutar roda ekonomi daerah melalui sport tourism. Potensi Indonesia sangat besar karena memiliki banyak kawasan alam yang luar biasa untuk trail running,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Bima Arya menegaskan komitmen Pengurus Pusat ALTI untuk memperluas program sertifikasi Race Director dan pelatih ke berbagai wilayah Indonesia. Ia berharap semakin banyak sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan sertifikasi resmi sehingga kualitas penyelenggaraan event trail running di Tanah Air terus meningkat.
“Kami akan mendorong agar kegiatan sertifikasi seperti ini dapat dilaksanakan di berbagai provinsi. Tujuannya membangun ekosistem lari trail Indonesia yang aman, profesional, berprestasi, sekaligus memberikan manfaat bagi perkembangan sport tourism nasional,” pungkasnya.














Komentar