SURABAYA – Potensi ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia dinilai masih sangat besar. Namun, potensi tersebut perlu diikuti dengan penguatan literasi dan inklusi keuangan agar semakin banyak masyarakat yang mampu mengakses serta memanfaatkan layanan keuangan syariah.
Hal itu disampaikan Regional CEO Bank Syariah Indonesia (BSI) Regional Office VIII Surabaya, Jajang Abdul Karim, saat menjadi narasumber dalam Talkshow Penguatan Literasi Keuangan Syariah pada rangkaian Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa (FESyar) 2026, Minggu (27/9/2026).
Talkshow yang berlangsung di Main Stage, Exhibition Hall Lantai 1 Grand City Surabaya tersebut mengangkat tema “Akselerasi Ekonomi Syariah Jawa: Transformasi Digital, Inovasi Pembiayaan Inklusif, dan Peningkatan Literasi Keuangan.”
Dalam paparannya, Jajang menjelaskan strategi BSI dalam memperluas akses masyarakat terhadap layanan perbankan syariah. Menurutnya, upaya meningkatkan penggunaan layanan keuangan syariah tidak cukup hanya dengan menyediakan produk, tetapi juga membutuhkan jaringan layanan yang luas dan mudah dijangkau.
Jajang menyebut setidaknya terdapat dua aspek utama yang terus dikembangkan BSI. Pertama, memperbanyak kanal layanan sehingga masyarakat dapat menemukan layanan perbankan syariah dengan mudah. Kedua, menyediakan produk dan solusi keuangan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Jadi kami harus punya channel yang banyak supaya masyarakat itu melihat bahwa perbankan syariah itu ada di mana-mana. Yang kedua adalah bagaimana produk-produknya memenuhi seluruh kebutuhan maupun solusi bagi kebutuhan masyarakat,” ujar Jajang.
Menurut dia, kedua hal tersebut menjadi bagian penting dari strategi BSI agar masyarakat semakin mudah berinteraksi dengan layanan perbankan syariah, baik melalui kantor cabang, jaringan agen, ATM maupun platform digital.
Jaringan Layanan Diperluas
Jajang menjelaskan, BSI terus memperkuat jaringan layanan di berbagai daerah Indonesia. Hingga saat ini, BSI memiliki sekitar 1.052 outlet yang tersebar di berbagai wilayah.
Khusus Jawa Timur, jaringan BSI telah menjangkau seluruh kabupaten dan kota. Bahkan, di beberapa kabupaten/kota terdapat lebih dari satu outlet untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat.
Untuk Surabaya, BSI memiliki sekitar 40 outlet. Dengan jaringan tersebut, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk mendapatkan layanan perbankan syariah secara langsung.
“Sehingga masyarakat kalau mau berbank di BSI, outletnya ada di mana-mana,” kata Jajang.
Tidak hanya outlet, BSI juga terus menambah jaringan ATM. Di Jawa Timur, jumlah ATM yang tersedia disebut telah mencapai sekitar 400 unit. Jaringan tersebut juga diperluas melalui titik-titik layanan yang berada di lingkungan masyarakat, termasuk gerai ritel.
Jajang mengatakan perluasan jaringan dilakukan secara berkelanjutan dengan memperhatikan wilayah yang masih memiliki keterbatasan akses.
“Tahun lalu kurang lebih BSI menambah sekitar 15 outlet di Jawa Timur. Tahun ini masih ada juga yang kami buka. Yang pokoknya blank spot-blank spot kami tutup, kami tambahkan supaya masyarakat makin mudah,” jelasnya.
Upaya tersebut, lanjut dia, juga akan terus dilakukan pada tahun berikutnya.
Selain jaringan kantor dan ATM, BSI juga memanfaatkan jaringan agen untuk memperluas jangkauan layanan.
Jajang menyampaikan, secara nasional jumlah BSI Agen telah mencapai sekitar 128 ribu agen. BSI Agen merupakan mitra sekaligus nasabah yang membantu menyediakan sejumlah layanan perbankan kepada masyarakat di lingkungan sekitar.
Di Jawa Timur, jumlah BSI Agen mencapai sekitar 15 ribu.
Melalui jaringan tersebut, masyarakat dapat melakukan berbagai transaksi dan mendapatkan sejumlah layanan perbankan tanpa harus selalu datang ke kantor cabang.
“Jadi tidak hanya melalui channel BSI, tapi juga bisa melalui BSI Agen,” ujarnya.
Jajang menjelaskan, layanan yang dapat dilakukan melalui agen antara lain transaksi perbankan, pembelian pulsa, layanan haji, hingga sejumlah layanan yang berkaitan dengan emas dan pembiayaan.
Dengan model tersebut, BSI berupaya menjadikan jaringan agen sebagai perpanjangan tangan layanan perbankan syariah di tengah masyarakat.
Selain memperkuat jaringan fisik, BSI juga terus mendorong transformasi digital. Jajang menyebut layanan digital menjadi salah satu instrumen penting untuk meningkatkan kemudahan akses masyarakat terhadap perbankan syariah.
BSI menyediakan aplikasi digital yang memungkinkan nasabah melakukan berbagai transaksi melalui telepon seluler.
Menurut Jajang, jumlah pengguna aplikasi digital BSI saat ini telah mencapai sekitar 6 juta pengguna. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat melakukan berbagai transaksi dan mengakses sejumlah produk keuangan.
Layanan yang tersedia tidak hanya berkaitan dengan transaksi perbankan, tetapi juga mencakup kebutuhan keuangan syariah lainnya.
Masyarakat dapat mengakses layanan terkait tabungan, transfer, pembayaran, tabungan haji dan umrah, serta layanan emas. BSI juga mengembangkan layanan yang terhubung dengan kebutuhan perjalanan haji dan umrah melalui kemitraan dengan berbagai pihak.
“Selain menggunakan cabang, menggunakan BSI Agen, masyarakat juga sangat mudah untuk menggunakan aplikasi digital di handphone masing-masing,” kata Jajang.
Menariknya, pengembangan layanan digital BSI juga tidak hanya berorientasi pada transaksi finansial.
Jajang menjelaskan, platform digital BSI juga menyediakan berbagai layanan yang berkaitan dengan aktivitas sosial dan keagamaan.
Masyarakat dapat memanfaatkan layanan untuk menyalurkan zakat, wakaf, donasi hingga kurban. Selain itu, terdapat pula sejumlah fitur yang berkaitan dengan kebutuhan spiritual, seperti informasi waktu salat dan arah kiblat.
Pengembangan berbagai fitur tersebut menjadi bagian dari upaya BSI membangun ekosistem keuangan syariah yang lebih luas.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menggunakan bank untuk menyimpan uang atau melakukan transaksi, tetapi juga dapat memanfaatkan layanan untuk berbagai aktivitas ekonomi, sosial dan keagamaan.
Dalam talkshow tersebut, Jajang juga memaparkan peran BSI dalam menyediakan pembiayaan bagi berbagai segmen masyarakat.
BSI memiliki produk pembiayaan yang menyasar sektor mikro, UMKM, small and medium enterprise, komersial hingga korporasi.
Untuk sektor usaha mikro dan kecil, BSI juga menjalankan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) sesuai dengan penugasan pemerintah.
Selain KUR, terdapat pula pembiayaan bagi pelaku UMKM yang membutuhkan modal kerja maupun investasi.
Sementara untuk segmen korporasi, BSI menyediakan berbagai layanan dan solusi keuangan, termasuk pembiayaan investasi, pembiayaan perdagangan serta layanan pengelolaan kas.
“Dari sisi pembiayaan, seluruh segmen, seluruh produk, baik yang mulai mikro, SME, commercial, corporate, itu juga BSI punya,” ujar Jajang.
Menurutnya, keberadaan berbagai pilihan pembiayaan tersebut ditujukan agar kebutuhan masyarakat dan pelaku usaha dapat dilayani berdasarkan segmen serta kebutuhannya.
Fokus Bangun Ekosistem Halal
Selain memperluas akses layanan dan pembiayaan, BSI menjadikan pengembangan ekosistem halal sebagai salah satu fokus utama.
Jajang mengatakan, pengembangan ekosistem halal dilakukan melalui berbagai sektor, salah satunya pendidikan dan pesantren.
BSI menyediakan layanan bagi pesantren dan sekolah Islam, termasuk layanan untuk lembaga, pengelola, guru, wali murid maupun siswa.
Layanan tersebut juga diarahkan untuk mendukung digitalisasi pengelolaan keuangan di lingkungan pesantren dan sekolah.
Mulai dari kartu santri hingga sistem pengelolaan kas atau cash management dikembangkan agar aktivitas keuangan lembaga pendidikan dapat dilakukan secara lebih terintegrasi.
“Pesantren-pesantren maupun sekolah-sekolah itu bisa menggunakan layanan kami dan berbasis digital,” ungkapnya.
Menurut Jajang, pesantren dan lembaga pendidikan Islam merupakan bagian penting dari ekosistem ekonomi syariah. Karena itu, digitalisasi layanan keuangan di sektor tersebut diharapkan dapat ikut memperkuat ekosistem halal secara lebih luas.
BSI Tak Hanya Berorientasi Bisnis
Jajang menegaskan bahwa kontribusi BSI terhadap perekonomian masyarakat tidak hanya dilakukan melalui aktivitas bisnis perbankan.
BSI juga menjalankan berbagai program sosial dan pemberdayaan masyarakat serta ikut mendukung sejumlah program pemerintah.
Dalam paparannya, ia menyebut BSI terlibat dalam sejumlah program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), FLPP, pembinaan UMKM, penyaluran zakat serta berbagai program pemberdayaan lainnya.
BSI juga memiliki program pembinaan bagi pelaku usaha dan masyarakat di berbagai daerah.
“Selain dari sisi bisnisnya, kami juga turut membantu ekonomi masyarakat dengan berbagai corporate social responsibility,” tutur Jajang.
Jajang menilai perluasan akses keuangan harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi. Sebab, semakin luas akses masyarakat terhadap layanan keuangan, semakin penting pula pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan yang digunakan.
Karena itu, penyediaan outlet, agen, ATM dan layanan digital perlu dibarengi edukasi agar masyarakat memahami fungsi, manfaat dan karakteristik layanan keuangan syariah.
FESyar 2026 menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pelaku industri, pemerintah, regulator dan masyarakat dalam membahas perkembangan ekonomi serta keuangan syariah.
Melalui kegiatan tersebut, penguatan literasi diharapkan dapat mendorong masyarakat tidak sekadar mengenal perbankan syariah, tetapi juga memahami berbagai produk dan layanan yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari maupun pengembangan usaha.
Jajang menutup paparannya dengan menegaskan kembali komitmen BSI untuk terus memperluas jaringan, mengembangkan layanan digital, menyediakan pembiayaan bagi berbagai segmen, serta memperkuat ekosistem halal.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi syariah di Jawa Timur dan Indonesia.
.














Komentar