Surabaya – Ketua KONI Jawa Timur, Dr. Muhammad Nabil, M.Si, menegaskan bahwa penerapan Sports Intelligence tidak boleh berhenti pada proses pengumpulan maupun analisis data semata. Menurutnya, seluruh rangkaian tersebut harus bermuara pada satu tujuan utama, yakni menghadirkan kemenangan dan meningkatkan prestasi olahraga.
Hal itu disampaikan Nabil saat menjadi narasumber dalam bedah buku Sports Intelligence: Membangun Ekosistem Olahraga Berbasis Data Menuju Indonesia Emas 2045 yang digelar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Selasa (7/7/2026).
Dalam paparannya, Nabil mengusulkan agar konsep Sports Intelligence dikaji lebih mendalam di lingkungan akademik. Ia berharap Unesa dapat membentuk forum kajian khusus yang melibatkan mahasiswa magister dan doktoral agar konsep tersebut terus berkembang secara ilmiah sekaligus aplikatif.
“Yang paling penting dari buku ini bukan sekadar mencari data dan mengolah data. Ujung-ujungnya adalah bagaimana membuat kebijakan yang menghasilkan kemenangan. Dalam olahraga, tujuan akhirnya adalah memenangkan pertandingan atau perlombaan,” ujarnya.
Nabil menjelaskan bahwa konsep Sports Intelligence sebenarnya telah lama diterapkan dalam olahraga dunia, meski belum dikenal dengan istilah tersebut. Ia mencontohkan keberhasilan pelatih tim nasional Argentina, Carlos Bilardo, yang mampu memaksimalkan potensi Diego Maradona pada Piala Dunia 1986 melalui strategi yang berfokus pada perlindungan dan optimalisasi kekuatan sang pemain.
Sebaliknya, ia juga mengangkat contoh konsep Total Football Belanda yang dinilai sangat revolusioner, namun belum mampu menghasilkan gelar juara dunia.
Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa strategi yang hebat tetap harus diukur dari hasil akhirnya.
“Konsep boleh luar biasa, tetapi ukuran akhirnya adalah kemenangan. Itu yang harus menjadi orientasi seluruh proses pembinaan olahraga,” tegasnya.
Nabil juga mengingatkan bahwa prestasi olahraga modern tidak lagi cukup mengandalkan keberuntungan ataupun doa semata. Menurutnya, olahraga harus ditopang oleh pemanfaatan teknologi, ilmu pengetahuan olahraga (sports science), analisis data, serta proses pengambilan keputusan yang tepat.
Ia menilai pengumpulan data atlet dan lawan saat ini relatif mudah dilakukan karena hampir seluruh informasi terbuka melalui berbagai kejuaraan nasional maupun internasional. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana memanfaatkan data tersebut untuk menyusun strategi yang mampu mengungguli lawan.
“Yang harus kita desain adalah bagaimana mengalahkan lawan. Data sudah tersedia, tetapi kecerdasan dalam mengolahnya menjadi strategi kemenangan itulah yang menentukan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Nabil juga memaparkan pengalaman KONI Jawa Timur mengembangkan konsep sport industry melalui penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Menurutnya, penyelenggaraan Porprov tidak hanya melahirkan atlet berprestasi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang besar bagi daerah.
Ia menyebut penyelenggaraan Porprov di Malang Raya mampu melibatkan sekitar 22.200 atlet dengan perputaran ekonomi mencapai sekitar Rp143 miliar di Kota Malang dan sekitar Rp103 miliar di Kota Batu.
“Ini bagian dari kecerdasan dalam mendesain olahraga. Event olahraga bukan hanya melahirkan prestasi, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi daerah,” ungkapnya.
Di akhir paparannya, Nabil menekankan bahwa keberhasilan Sports Intelligence harus dibangun melalui sinergi seluruh komponen olahraga, mulai dari atlet, pelatih, akademisi, hingga dukungan anggaran yang memadai.
“Kecerdasan atlet harus ada, kecerdasan pelatih juga harus ada. Tetapi yang sering dilupakan adalah kecerdasan dalam mengelola anggaran. Semua komponen itu harus berjalan bersama agar pembinaan olahraga menghasilkan prestasi yang berkelanjutan,” pungkasnya.


















Komentar