oleh

LPPD Jatim Gelar Studium Generale 1.010 Mahasiswa Penerima Beasiswa, Launching Pusat Riset Pesantren dan Diniyah

banner 468x60

SURABAYA – Lembaga Pengembangan Pesantren dan Diniyah (LPPD) Provinsi Jawa Timur menggelar Studium Generale Mahasiswa/Mahasantri Baru Penerima Beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Timur Tahun 2026, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Islamic Center Provinsi Jawa Timur, Jalan Raya Dukuh Kupang 122-124 Surabaya tersebut sekaligus dirangkai dengan peluncuran Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jawa Timur 2026.

banner 336x280

Ketua LPPD Provinsi Jawa Timur, Prof. Dr. H. Abd. Halim Soebahar, M.A., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam penguatan kualitas sumber daya manusia melalui program beasiswa Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Menurutnya, penerima beasiswa tidak hanya diarahkan untuk menyelesaikan pendidikan, tetapi juga diharapkan mampu menjadi generasi intelektual yang menghasilkan karya dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang pesantren dan diniyah.

Dalam program beasiswa tahun 2026, terdapat 1.100 mahasiswa yang telah menyelesaikan proses seleksi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.010 mahasiswa mengikuti Studium Generale yang digelar di Islamic Center Jatim.

Sementara itu, sebanyak 90 mahasiswa lainnya akan mengikuti kegiatan secara terpisah karena masih menjalani tahapan seleksi pada program tertentu.

Halim menjelaskan, dari 90 mahasiswa tersebut terdapat sekitar 60 mahasiswa program STEAM, yakni bidang Science, Technology, Engineering, Arts, dan Mathematics.

Para peserta program STEAM saat ini masih menjalani proses seleksi melalui jalur khusus di sejumlah perguruan tinggi negeri di Jawa Timur, antara lain Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Brawijaya, dan Universitas Jember.

“Memang kebijakannya berbeda karena mereka yang menempuh program STEAM dari Pemprov Jatim dilakukan melalui program khusus seleksi mandiri,” ujar Halim.

Sementara itu, untuk mahasiswa yang akan melanjutkan pendidikan di Mesir, proses seleksi dijadwalkan berlangsung pada 24 September 2026.

Karena itu, peserta yang hadir dalam kegiatan Studium Generale kali ini merupakan bagian dari keseluruhan program beasiswa Pemprov Jatim, sedangkan peserta yang masih menjalani proses seleksi akan mendapatkan pembekalan dalam kegiatan tersendiri.

Halim juga memaparkan perkembangan program beasiswa Pemprov Jawa Timur sejak Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menjabat.

Hingga saat ini, program tersebut telah memberikan manfaat kepada sekitar 7.976 mahasiswa dan mahasantri.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.580 orang telah menyelesaikan pendidikan sarjana, 1.355 orang menyelesaikan pendidikan magister, dan 75 orang menyelesaikan pendidikan doktor.

Program beasiswa tersebut juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa dan mahasantri untuk menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi, termasuk perguruan tinggi di luar negeri.

Salah satunya adalah Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Halim menyebut angkatan pertama penerima beasiswa pendidikan di Mesir dimulai pada 2022. Pada tahun yang sama, Gubernur Khofifah bersama tim Pemprov Jatim berkunjung dan menyapa para mahasiswa di Mesir pada 22-26 November 2022.

Saat ini, terdapat sekitar 125 mahasiswa S1 dan S2 penerima beasiswa Pemprov Jatim yang menempuh pendidikan di Al-Azhar.

Salah satu hal yang dinilai membanggakan LPPD adalah produktivitas para penerima beasiswa dalam menghasilkan karya ilmiah.

Halim mengatakan, mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Pemprov Jatim ternyata mampu menghasilkan karya-karya akademik yang dinilai memiliki kontribusi penting terhadap pengembangan keilmuan pesantren.

Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa para mahasiswa penerima beasiswa tidak hanya mendapatkan dukungan pembiayaan pendidikan, tetapi juga mampu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghasilkan karya.

“Tanpa kita duga, mahasiswa yang kita kasih beasiswa ternyata sudah melahirkan karya-karya yang tidak dimiliki oleh perguruan tinggi lain,” ungkapnya.

Ia mencontohkan para mahasiswa Al-Azhar yang selama ini terkadang mendapatkan anggapan kurang kuat dalam metodologi maupun penulisan.

Namun, melalui pembinaan dan dukungan Pemprov Jatim, para mahasiswa tersebut justru menunjukkan produktivitas dalam berkarya.

Menurut Halim, karya-karya tersebut nantinya dapat menjadi bagian dari pengembangan Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jawa Timur.

Produktivitas juga ditunjukkan oleh para mahasantri dari sejumlah Ma’had Aly di Jawa Timur.

Halim menyebut terdapat karya dari mahasantri Sukorejo, Lirboyo, dan Tebuireng yang memiliki fokus keilmuan masing-masing.

Mahasantri Sukorejo yang memiliki tahassus fikih dan ulumul fikih menghasilkan karya mengenai fikih progresif.

Sementara mahasantri Lirboyo dengan konsentrasi fikih kebangsaan menghasilkan karya tentang fikih dan kebangsaan.

Sedangkan mahasantri Tebuireng yang mendalami hadis dan ilmu hadis menghasilkan karya “Melihat Dunia melalui Kacamata Hadis.”

Menurut Halim, karya tersebut menunjukkan bahwa tradisi keilmuan pesantren memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi kajian akademik yang lebih.

Tidak berhenti pada mahasiswa S1 dan S2, program beasiswa juga mendorong mahasiswa jenjang doktoral untuk menghasilkan penelitian.

Halim mengungkapkan terdapat sekitar 170 karya ilmiah mahasiswa program S3 dari angkatan 2022, 2023, 2024, dan 2025.

Karya-karya tersebut kemudian dikompilasi menjadi 17 buku.

“Yang lebih membanggakan lagi ada 170 karya ilmiah mahasiswa program S3 angkatan tahun 2022, 2023, 2024, 2025 yang akhirnya kami kompilasi menjadi 17 buku,” katanya.

Menurutnya, mahasiswa program doktor memang harus memiliki orientasi kuat terhadap riset. Karena itu, keberhasilan menghasilkan ratusan karya ilmiah menjadi bagian penting dari investasi intelektual yang dibangun melalui program beasiswa Pemprov Jatim.

Selain itu, mahasiswa S2 yang menempuh pendidikan di Mesir juga ditargetkan mempublikasikan sekitar 30 buku pada semester ini.

Buku-buku tersebut merupakan rangkuman dari sekitar 150 kitab berbahasa Arab yang menjadi bagian dari kajian para mahasiswa.

Akan Teliti Sanad Keilmuan Pengasuh Pesantren

Pengembangan riset pesantren juga akan diarahkan pada penelitian terhadap sanad keilmuan para pengasuh pesantren.

Halim menyebut sekitar 125 mahasantri dari Sukorejo, Tebuireng dan Lirboyo akan menjadi bagian dari pengembangan kegiatan tersebut.

Penelitian mengenai sanad keilmuan dinilai penting untuk mendokumentasikan sejarah dan kesinambungan tradisi keilmuan pesantren.

Dengan adanya dokumentasi tersebut, pengetahuan dan jaringan keilmuan yang berkembang di lingkungan pesantren dapat menjadi bahan penelitian sekaligus referensi bagi generasi berikutnya.

Peluncuran Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jawa Timur 2026 menjadi momentum untuk mengubah posisi pesantren dalam dunia penelitian.

Halim menilai selama ini pesantren lebih banyak menjadi objek penelitian yang dilakukan oleh pihak dari luar pesantren.

Ke depan, ia ingin pesantren mampu menjadi subjek yang melakukan penelitian dan menghasilkan pengetahuan mengenai dirinya sendiri.

“Dulu pesantren hanya sebagai objek untuk penelitian orang luar bicara tentang pesantren. Maka hari ini dan ke depan orang pesantren akan berbicara tentang pesantren, orang pesantren akan berbicara pada dunia luar,” tegasnya.

Menurut Halim, langkah tersebut menjadi bagian dari transformasi pesantren dalam menghadapi perkembangan dunia akademik.

Pesantren tidak hanya mempertahankan tradisi keilmuan, tetapi juga mampu mendokumentasikan, meneliti, dan mempublikasikan berbagai khazanah keilmuan yang dimilikinya.

Halim menambahkan, pengembangan pusat riset tersebut memiliki modal akademik yang cukup kuat.

Saat ini, menurutnya, sudah terdapat lebih dari 40 buku yang berisi hasil penelitian tentang pesantren yang dihasilkan melalui program tersebut.

Jumlah tersebut dinilai menjadi kekuatan tersendiri bagi Jawa Timur dalam membangun pusat kajian pesantren.

“Kalau perguruan tinggi punya lima buku saja hasil riset pesantren berani deklarasi sebagai pusat studi pesantren, tapi kita hari ini sudah punya 40 lebih buku tentang hasil-hasil penelitian mereka,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa karya-karya tersebut bukan sekadar penelitian umum mengenai pesantren, melainkan dihasilkan oleh para peneliti yang memiliki latar belakang dan pengalaman akademik di lingkungan pesantren.

Jatim Memiliki Regulasi Khusus Pesantren

Dalam kesempatan tersebut, Halim juga menyinggung posisi Jawa Timur yang memiliki regulasi khusus terkait pengembangan pesantren.

Menurutnya, Jawa Timur memiliki peraturan daerah tentang pesantren, peraturan gubernur tentang pesantren, serta keputusan gubernur mengenai rencana pengembangan pesantren hingga 2029.

Keberadaan regulasi tersebut dinilai dapat menjadi bahan kajian bagi mahasiswa dan mahasantri penerima beasiswa.

Ia mendorong para penerima beasiswa untuk tidak hanya mempelajari ilmu dari buku, tetapi juga menjadikan berbagai kebijakan dan perkembangan pesantren di Jawa Timur sebagai objek penelitian.

“Jadikan ini semua nanti sebagai fokus kajian untuk pengembangan perguruan tinggi khususnya di Jawa Timur di masa-masa yang akan datang,” pesannya.

Beasiswa sebagai Investasi Intelektual

Halim menegaskan bahwa program beasiswa Pemprov Jatim harus dimanfaatkan secara maksimal oleh para penerima.

Dana yang diberikan bukan sekadar bantuan untuk membiayai kuliah, melainkan bentuk investasi pemerintah dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas.

Ia menyebut dana beasiswa telah ditransfer LPPD kepada 59 rekening pimpinan perguruan tinggi untuk mendukung kebutuhan pendidikan para penerima.

Karena itu, para mahasiswa dan mahasantri diminta bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu.

“Uang yang sudah ditransfer oleh LPPD kepada 59 rekening pimpinan perguruan tinggi itu untuk apa? Agar supaya kita betul-betul tekun belajar dalam rangka mencari ilmu dan mencari keberkahan,” jelasnya.

Ia berharap para penerima beasiswa mampu menjadi generasi intelektual muda yang memiliki kemampuan akademik sekaligus tetap berakar kuat pada tradisi keilmuan pesantren.

Melalui program beasiswa, LPPD Jatim ingin membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga melahirkan peneliti, akademisi, dan intelektual pesantren yang mampu menghasilkan karya dan memperkenalkan khazanah pesantren Jawa Timur kepada dunia.

Peluncuran Pusat Riset Pesantren dan Diniyah Jawa Timur 2026 pun diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat posisi pesantren sebagai pusat produksi pengetahuan, bukan sekadar sebagai objek kajian.

Dengan semakin banyaknya karya ilmiah, buku, penelitian, dan dokumentasi keilmuan yang dihasilkan para penerima beasiswa, Jawa Timur diharapkan mampu menjadi salah satu pusat kajian pesantren yang kuat di tingkat nasional maupun internasional.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *