SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya dalam mendorong pertumbuhan industri grafika dan percetakan sebagai salah satu sektor strategis penopang ekonomi daerah. Komitmen tersebut disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, saat mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka Surabaya Printing Expo (SPE) 2026 di Grand City Convention & Exhibition Surabaya, Rabu (8/7/2026).
Dalam sambutannya, Sherlita mengapresiasi penyelenggaraan Surabaya Printing Expo yang telah memasuki tahun ke-19 dan dinilai tidak lagi sekadar menjadi ajang pameran produk percetakan, tetapi telah berkembang menjadi ekosistem kolaborasi yang mempertemukan pelaku industri, dunia pendidikan, komunitas kreatif, investor, hingga calon pembeli dari dalam maupun luar negeri.
Ia juga memperkenalkan salah satu program unggulan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, yakni Misi Dagang, yang selama ini menjadi sarana mempertemukan buyer dan seller antarprovinsi untuk memperluas akses pasar produk unggulan Jawa Timur.
“Melalui program misi dagang, kami mempertemukan buyer dan seller dari berbagai provinsi. Sebelum acara utama berlangsung, ada pertemuan business to business (B2B) sehingga saat misi dagang dilaksanakan, transaksi yang terjadi sudah siap ditandatangani. Nilai transaksinya bahkan rata-rata mencapai lebih dari Rp1 triliun. Kami berharap ke depan industri printing juga dapat menjadi bagian dari kegiatan misi dagang tersebut,” ujar Sherlita.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki fondasi ekonomi yang sangat kuat. Berdasarkan data triwulan I tahun 2026, Jawa Timur menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua di Pulau Jawa dengan kontribusi 14,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur juga mencapai 5,96 persen (year on year), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61 persen.
Sherlita menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah dengan dunia usaha, termasuk para pelaku industri yang terus berinvestasi dan berinovasi di Jawa Timur.
“Keberhasilan ini bukan semata-mata hasil kerja pemerintah, tetapi juga berkat kontribusi para pelaku usaha yang terus bergerak dan berkembang. Karena itu kami menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelaku industri yang hadir pada Surabaya Printing Expo 2026,” katanya.
Ia menjelaskan, struktur ekonomi Jawa Timur saat ini didominasi sektor industri pengolahan yang memberikan kontribusi sekitar 31 persen, disusul sektor perdagangan sebesar 18,77 persen, sedangkan sektor pertanian berkontribusi sekitar 10,51 persen.
Dalam struktur tersebut, industri percetakan memiliki posisi yang cukup strategis sebagai bagian dari subsektor industri kertas, barang dari kertas, percetakan, dan reproduksi media rekaman.
Data Pemerintah Provinsi Jawa Timur menunjukkan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) industri percetakan Jawa Timur telah mencapai sekitar Rp27,64 triliun pada 2025 dengan pertumbuhan kumulatif 11,42 persen dalam tiga tahun terakhir. Selama periode tersebut, kontribusi industri percetakan terhadap sektor industri pengolahan juga relatif stabil di kisaran 4,94 hingga 4,98 persen.
Meski demikian, Sherlita mengakui industri percetakan masih menghadapi tantangan, terutama tingginya ketergantungan terhadap mesin impor.
Ia mengungkapkan nilai ekspor mesin percetakan Jawa Timur sempat mengalami penurunan pada periode 2023–2024. Namun pada 2025 kembali mengalami peningkatan hingga 40,07 persen. Di sisi lain, nilai impor mesin percetakan masih jauh lebih besar, mencapai sekitar 52,75 juta dolar Amerika Serikat, dengan hampir separuhnya berasal dari Tiongkok.
Menurut Sherlita, kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang pengembangan industri mesin percetakan nasional agar mampu mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti pesatnya perkembangan teknologi digital yang kini mulai mengubah wajah industri percetakan, termasuk pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam proses desain maupun produksi.
Sherlita menyebut penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 81,72 persen, sedangkan di Jawa Timur mencapai 83,41 persen. Tingginya tingkat penggunaan internet tersebut menjadi peluang besar bagi transformasi industri berbasis digital.
“Artificial Intelligence menjadi alat yang sangat membantu mempercepat pekerjaan, meningkatkan efisiensi, dan produktivitas. Tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru yang harus diantisipasi bersama,” ujarnya.
Ia menyebut sedikitnya terdapat tiga tantangan utama yang perlu mendapat perhatian, yakni peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), perlindungan hak cipta karya kreatif, serta perlindungan data pribadi di tengah berkembangnya teknologi digital.
Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong kolaborasi antara dunia pendidikan dengan dunia industri melalui program pendidikan vokasi, magang, serta penguatan kompetensi agar lulusan sekolah memiliki pengalaman langsung menggunakan teknologi industri terkini.
“Saya berharap perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Surabaya Printing Expo dapat membuka kesempatan magang bagi siswa maupun mahasiswa. Pengalaman belajar langsung di industri tentu akan memberikan bekal yang jauh lebih besar dibandingkan hanya belajar di ruang kelas,” katanya.
Sherlita juga mengapresiasi berbagai inovasi yang ditampilkan para peserta pameran, termasuk teknologi tinta khusus untuk kebutuhan keamanan dokumen maupun berbagai teknologi percetakan digital terbaru.
Menurutnya, Surabaya Printing Expo menjadi ruang yang sangat penting untuk mempertemukan pelaku usaha percetakan, penyedia mesin, pemasok bahan baku, investor, hingga calon pembeli dalam satu ekosistem bisnis yang saling menguatkan.
Di akhir sambutannya, Sherlita bahkan mendorong agar Surabaya Printing Expo tidak hanya berkembang sebagai pameran nasional, tetapi mampu menembus pasar internasional.
“Saya yakin Surabaya Printing Expo layak menjadi pameran bertaraf internasional yang membawa nama Indonesia ke dunia. Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan terus hadir memberikan dukungan, menciptakan iklim usaha yang kondusif, memfasilitasi kemudahan berusaha, serta membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk-produk percetakan asal Jawa Timur maupun Indonesia, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tegasnya.
Melalui penyelenggaraan Surabaya Printing Expo 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Timur berharap tercipta lebih banyak kolaborasi, transfer teknologi, transaksi bisnis, dan investasi yang semakin memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat industri grafika dan percetakan nasional.














Komentar