SURABAYA — Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Timur menggelar Pagelaran Wayang Kulit DPRD Jatim 2026 dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur. Kegiatan yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026) di halaman DPRD Jatim, Jalan Raya Indrapura, Surabaya, tersebut menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus melestarikan seni dan budaya tradisional.
Pagelaran wayang kulit ini dihadiri Pimpinan dan jajaran anggota DPRD Jatim, perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD) Pemprov Jatim, serta masyarakat umum. Acara yang terbuka gratis bagi masyarakat tersebut dimeriahkan oleh Ki Arief Sarjono sebagai dalang, bersama Abah Kirun, Cak Percil dan rekan-rekan, serta Guyon Maton.
Ketua Komisi E DPRD Provinsi Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pagelaran wayang kulit tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga sarana untuk memperkuat hubungan antara lembaga legislatif dan rakyat.
Menurut Sri Untari, kegiatan kebudayaan seperti ini menghadirkan ruang kebersamaan yang dapat dinikmati berbagai kalangan. Kehadiran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjajakan beragam makanan di sekitar lokasi acara juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Pagelaran wayang kulit tidak hanya menghadirkan dalang dan para pengrawit, tetapi juga menghadirkan kehangatan. Ada banyak makanan yang tersaji, ada banyak teman-teman yang bisa ikut membeli dan menikmati pagelaran wayang kulit ini,” ungkapnya.
Sri Untari juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga kerukunan dan kebersamaan dalam membangun Jawa Timur. Ia menilai, stabilitas daerah dan kepemimpinan yang baik menjadi modal penting untuk menjaga pembangunan agar tetap berjalan dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.
Dalam sambutannya, Sri Untari menyinggung peran historis Jawa Timur dalam perjalanan bangsa Indonesia, khususnya peristiwa Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi salah satu momentum penting yang memperlihatkan kepada dunia perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.
Ia menegaskan bahwa Jawa Timur hingga kini terus berupaya mempertahankan kinerja pembangunan dan perekonomian, sekaligus menjaga kehidupan masyarakat yang guyub rukun.
Namun, Sri Untari juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap berbagai persoalan lingkungan, termasuk kebakaran yang terjadi di kawasan pegunungan. Ia berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga kawasan tersebut kembali pulih dan ekosistemnya dapat terjaga.
Wayang Kulit Mengandung Nilai Kehidupan
Lebih lanjut, Sri Untari menjelaskan bahwa lakon Wahyu Jitabsara yang dipentaskan dalam acara tersebut memiliki pesan filosofis mengenai strategi, tanggung jawab, pengorbanan, serta peran setiap individu dalam menentukan arah kehidupan.
Melalui kisah pewayangan, masyarakat diajak memahami bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dan peran yang berbeda. Ada saatnya seseorang harus berkorban, memimpin di depan, maupun mendukung dari belakang demi tercapainya tujuan bersama.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut tetap relevan dalam kehidupan masa kini. Wayang tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang mengandung pesan moral, kebijaksanaan, dan pembelajaran mengenai kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, Sri Untari secara khusus mengajak generasi muda, mulai dari Generasi Z hingga Generasi Alpha, untuk mengenal dan mencintai kembali kesenian wayang kulit sebagai bagian dari warisan budaya bangsa.
Ia menilai pelestarian budaya harus dilakukan dengan pendekatan yang menyesuaikan perkembangan zaman agar semakin mudah diterima oleh anak-anak muda.
Salah satu gagasan yang disampaikannya adalah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk memperkenalkan cerita wayang kepada generasi digital. Melalui teknologi tersebut, kisah-kisah pewayangan dapat dikemas secara lebih menarik sehingga masyarakat muda dapat mempelajari setiap lakon dengan lebih mudah.
“Wayang ini adalah sarana kita untuk terhubung dengan tinggalan leluhur kita. Mudah-mudahan pertunjukan malam hari ini menjadi khazanah bagi anak-anak muda kita untuk mencintai kembali wayang ini,” ujarnya.
DPRD Harus Selalu Dekat dengan Rakyat
Sri Untari turut menyampaikan apresiasi kepada pimpinan dan seluruh anggota DPRD Jatim yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan kebudayaan tersebut melalui alokasi anggaran di lingkungan Sekretariat DPRD Jatim.
Ia menjelaskan, kegiatan seperti pengajian bersama tokoh agama maupun pagelaran wayang kulit merupakan bagian dari upaya menghadirkan DPRD sebagai lembaga yang dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, lembaga legislatif tidak hanya menjalankan fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan, tetapi juga perlu membangun kedekatan sosial dengan masyarakat melalui kegiatan yang memberikan ruang interaksi dan kebersamaan.
“DPRD adalah wakil rakyat, maka akan selalu dekat bersama rakyat,” tegasnya.
Pagelaran Wayang Kulit DPRD Jatim 2026 diharapkan tidak hanya memeriahkan peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, tetapi juga memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal, menghidupkan aktivitas UMKM, serta menanamkan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.
Melalui kegiatan tersebut, DPRD Jatim menegaskan pentingnya menjaga tradisi sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi agar warisan budaya Jawa tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.




















Komentar