SURABAYA – RSUD Haji Provinsi Jawa Timur resmi meluncurkan HAJI C-AIRRe 2026 (Collaborative Artificial Intelligence & Robotic Research Innovation Ecosystem in Healthcare) di Ruang Serambi Mekah Lantai 2 RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, Rabu (15/7/2026). Program ini menjadi tonggak pengembangan ekosistem riset dan inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan teknologi robotik melalui kolaborasi antara RSUD Haji, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Airlangga (Unair).
Direktur RSUD Haji Provinsi Jawa Timur, dr. Tauhid Islamy, SpOG, Subsp.K.Fm, mengatakan pembentukan HAJI C-AIRRe berangkat dari tantangan yang dihadapi rumah sakit sebagai institusi yang padat modal, padat teknologi, sekaligus padat permasalahan.
Menurutnya, berbagai keluhan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit umumnya berkaitan dengan lamanya waktu pelayanan, mulai dari antrean pemeriksaan, proses pengobatan, hingga pengambilan obat. Selain itu, masyarakat juga menginginkan transparansi biaya, akuntabilitas proses pelayanan, jaminan mutu layanan, serta keselamatan pasien (patient safety).
Ia menjelaskan bahwa peningkatan kualitas layanan secara konvensional akan selalu diikuti dengan kebutuhan penambahan sumber daya manusia. Sementara di sisi lain, rumah sakit memiliki keterbatasan dalam menambah tenaga kerja sehingga diperlukan pendekatan baru melalui transformasi digital.
Karena itu, RSUD Haji menetapkan tiga pilar utama transformasi layanan, yakni otomatisasi proses bisnis, pemanfaatan Artificial Intelligence dalam berbagai sistem pelayanan, serta penerapan teknologi robotik untuk mendukung operasional rumah sakit.
Namun demikian, Tauhid menegaskan rumah sakit tidak memiliki seluruh kompetensi tersebut sehingga kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi langkah strategis. Melalui kerja sama dengan ITS dan Universitas Airlangga, dibangun sebuah ekosistem penelitian dan pengembangan (research and development) yang berfokus pada otomatisasi, AI, dan robotik di bidang kesehatan.
Ia menekankan bahwa yang diluncurkan bukan sekadar produk teknologi, melainkan sebuah ekosistem inovasi yang memungkinkan berbagai solusi digital terus dikembangkan sesuai kebutuhan pelayanan rumah sakit.
Dalam kesempatan itu, Tauhid juga memperkenalkan sejumlah inovasi berbasis AI yang telah dihasilkan. Salah satunya AI MINA, sebuah sistem kecerdasan buatan yang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas klaim BPJS Kesehatan. Dengan teknologi tersebut, risiko klaim tertunda maupun klaim yang gagal dibayarkan dapat ditekan hingga di bawah lima persen, sehingga kondisi keuangan rumah sakit menjadi lebih sehat.
Selain itu terdapat A-Brain 2U, teknologi AI yang diintegrasikan pada pemeriksaan MRI untuk membantu mendeteksi tumor otak dan stroke. Jika sebelumnya proses penegakan diagnosis dapat memerlukan waktu hingga dua hari, kini hasil analisis dapat diperoleh sekitar dua jam.
RSUD Haji juga mengembangkan teknologi AI bersama mitra dari Jepang untuk membaca hasil CT Scan pada kasus stroke hiperakut. Teknologi ini mampu mendeteksi kelainan yang sering kali belum terlihat oleh mata manusia pada fase awal serangan stroke, sehingga diharapkan mempercepat penanganan pasien sekaligus meningkatkan akurasi diagnosis.
Tauhid berharap seluruh inovasi yang lahir melalui HAJI C-AIRRe tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat dikembangkan menuju hilirisasi, diproduksi secara massal, dan dimanfaatkan oleh rumah sakit lain di seluruh Indonesia.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada ITS dan Universitas Airlangga atas dukungan penuh dalam membangun kolaborasi tersebut. Menurutnya, sinergi antara rumah sakit dan perguruan tinggi menjadi fondasi penting dalam menciptakan layanan kesehatan yang lebih cepat, akurat, efisien, serta berorientasi pada keselamatan pasien di era transformasi digital.


















Komentar