SURABAYA – Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur, Iwan, memaparkan sejumlah strategi untuk memperkuat perdagangan dan mendorong produk unggulan Jawa Timur menembus pasar global. Hal tersebut disampaikan dalam Sarasehan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur bertajuk “Gerbang Baru Nusantara: The Next Level – Menguatkan Peran Jawa Timur, Menggerakkan Kemajuan Indonesia, Menuju Gerbang Dunia” yang digelar di atas KRI Makassar 590, Selasa (13/10/2026).
Dalam pemaparannya, Iwan menjelaskan bahwa Jawa Timur memiliki potensi ekonomi yang besar, ditopang oleh sektor industri manufaktur, perdagangan, dan pertanian. Berdasarkan data yang disampaikan, perputaran ekonomi Jawa Timur pada 2025 mencapai sekitar Rp3.400 triliun. Sementara itu, hingga semester pertama 2026, nilai aktivitas ekonomi Jawa Timur telah mencapai sekitar Rp1.800 triliun.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan besarnya peran Jawa Timur dalam menggerakkan perekonomian nasional. Karena itu, penguatan sektor perdagangan dan perluasan akses pasar menjadi langkah penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi daerah.
Iwan juga menyoroti aktivitas ekspor dan impor Jawa Timur. Meskipun nilai impor masih lebih besar dibandingkan ekspor, ia menjelaskan bahwa sekitar 97 persen impor yang dimaksud merupakan bahan penolong bagi kegiatan industri.
“Ini berarti industri kita berjalan dan tentunya menciptakan lapangan kerja yang luar biasa,” ungkapnya.
Ia menambahkan, penggunaan bahan penolong impor menjadi salah satu indikator aktivitas industri yang terus bergerak. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga keberlangsungan sektor industri manufaktur sebagai salah satu penopang perekonomian Jawa Timur.
Menghadapi dinamika ekonomi global, termasuk konflik geopolitik yang berdampak pada jalur perdagangan dan pasokan energi, Disperindag Jawa Timur terus mendorong diversifikasi pasar ekspor.
Menurut Iwan, ketergantungan pada pasar tradisional perlu diimbangi dengan upaya membuka peluang perdagangan di negara-negara nontradisional. Langkah tersebut dilakukan melalui pertemuan bisnis secara daring atau business meeting dengan sejumlah negara, di antaranya Maroko, Brasil, dan Tunisia.
Upaya ini bertujuan memperluas jaringan perdagangan internasional sekaligus membuka peluang baru bagi produk-produk unggulan Jawa Timur.
Selain memperluas tujuan ekspor, pemerintah juga berupaya menciptakan lebih banyak pelaku usaha yang mampu menembus pasar internasional. Program tersebut dilaksanakan melalui kerja sama dengan berbagai lembaga, partisipasi dalam forum bisnis, serta keikutsertaan dalam pameran internasional.
Iwan menyebutkan, Jawa Timur memiliki sekitar 870 ribu unit industri kecil, menengah, dan besar yang perlu terus didorong agar mampu meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pemasaran.
“Kami memperbanyak pelaku usaha yang terlibat dalam setiap misi dagang. Jadi, bukan hanya perangkat daerahnya yang bergerak, tetapi pelaku usahanya juga harus semakin banyak,” jelasnya.
Ia mencontohkan pelaksanaan misi dagang ke Medan serta ke sejumlah negara di Timur Tengah, termasuk Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, yang melibatkan hampir 60 pelaku usaha dalam setiap kegiatan.
Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap semakin banyak pelaku industri dan perdagangan Jawa Timur yang mendapatkan akses langsung ke pasar potensial.
Misi Dagang Catat Ribuan Transaksi
Dalam paparannya, Iwan juga mengungkapkan bahwa pelaksanaan misi dagang yang telah dilakukan Jawa Timur mencatat sebanyak 2.376 transaksi dengan nilai mencapai sekitar Rp49 triliun.
Capaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat konektivitas perdagangan antardaerah sekaligus memperluas peluang kerja sama dengan mitra internasional.
Selain misi dagang secara langsung, Disperindag Jawa Timur juga mengoptimalkan business matching secara daring untuk mempertemukan pelaku usaha dengan calon pembeli dari berbagai negara.
Melalui strategi tersebut, pemerintah berupaya memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat perdagangan nasional yang memiliki jaringan pasar semakin luas.
Pasar Murah Perkuat Daya Beli Masyarakat
Tidak hanya berfokus pada perdagangan internasional, Disperindag Jawa Timur juga memperkuat ekosistem perdagangan dalam negeri melalui program pasar murah.
Iwan menjelaskan, program tersebut setiap tahun melibatkan hampir 90 ribu orang, sekitar 2.590 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mencatat nilai transaksi hampir Rp12 miliar.
Menurutnya, pasar murah menjadi salah satu instrumen untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memberikan ruang pemasaran bagi pelaku UMKM.
Penguatan pasar domestik tersebut diharapkan berjalan beriringan dengan perluasan pasar ekspor sehingga pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dapat dirasakan oleh lebih banyak lapisan masyarakat.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong kemitraan antara industri kecil dan menengah (IKM) dengan pelaku usaha besar. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi, meningkatkan kualitas produk, dan membuka akses pemasaran yang lebih luas.
Jawa Timur Menuju Pusat Perdagangan Global
Menutup pemaparannya, Iwan menegaskan bahwa penguatan jaringan perdagangan merupakan salah satu langkah untuk membawa produk-produk Jawa Timur semakin dikenal di pasar internasional.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga terus menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai perwakilan serta lembaga perdagangan di luar negeri untuk membuka peluang ekspor baru.
Pasar di kawasan Afrika dan Amerika menjadi bagian dari wilayah yang mulai dijajaki, di samping upaya mempertahankan pasar ekspor yang telah berkembang.
Melalui diversifikasi pasar, penguatan misi dagang, pendampingan pelaku usaha, serta pengembangan kemitraan industri, Jawa Timur diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus memperkuat kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Upaya tersebut sejalan dengan semangat Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, yakni memperkuat peran Jawa Timur dalam menggerakkan kemajuan Indonesia dan membuka jalan menuju pasar dunia.














Komentar