SURABAYA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI bersama Yayasan Batik Indonesia (YBI) menggelar Pameran Hari Batik Nasional 2026 di Atrium Tunjungan Plaza 3, Surabaya, Rabu (30/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Batik Nasional 2026 sekaligus menjadi ruang promosi dan pengembangan industri batik nasional. Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza hadir dalam kegiatan tersebut dan menyampaikan pentingnya memperkuat ekosistem industri batik dari hulu hingga hilir.
Dalam sambutannya, Faisol mengapresiasi konsistensi Yayasan Batik Indonesia dalam menjaga dan melestarikan batik Indonesia melalui berbagai kegiatan, termasuk pameran dan rangkaian agenda Hari Batik Nasional.
Menurutnya, Hari Batik Nasional tidak sekadar menjadi momentum untuk mengenakan batik, tetapi juga harus menjadi sarana meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap batik sebagai warisan budaya sekaligus kekuatan ekonomi nasional.
“Yayasan Batik Indonesia adalah yayasan yang konsisten melestarikan batik Indonesia melalui berbagai macam kegiatan, yang puncaknya adalah peringatan Hari Batik Nasional,” ujar Faisol.
Ia mengatakan, kegiatan pameran memberikan kesempatan kepada para pelaku usaha dan perajin batik untuk memperluas pasar. Tidak hanya menyasar konsumen dalam negeri, tetapi juga membuka peluang agar produk batik Indonesia semakin dikenal di pasar global.
Faisol menyebut perkembangan pasar batik dalam negeri menunjukkan tren yang positif. Salah satu indikatornya adalah meningkatnya minat generasi muda terhadap batik.
Menurut dia, batik kini tidak hanya digunakan dalam kegiatan formal. Perkembangan industri fashion juga mendorong munculnya produk batik siap pakai atau ready to wear, aksesoris hingga alas kaki.
“Generasi muda kita ternyata memiliki minat dan kecintaan yang tinggi, terutama dalam menggunakan batik dalam kegiatan mereka sehari-hari. Tidak hanya untuk kegiatan formal, tetapi juga untuk aktivitas lainnya,” katanya.
Namun, di tengah meningkatnya permintaan terhadap batik, Faisol mengingatkan adanya tantangan serius terkait keberlangsungan perajin batik.
Berdasarkan data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) yang disampaikan dalam sambutannya, jumlah perajin batik sepanjang periode 2019 hingga 2023 mengalami penurunan sekitar 20 persen, dari sekitar 131 ribu menjadi 105 ribu perajin.
Menurut Faisol, kondisi tersebut menjadi perhatian karena meningkatnya minat masyarakat terhadap produk batik belum sepenuhnya diikuti dengan bertambahnya jumlah generasi muda yang tertarik menjadikan profesi perajin batik sebagai pilihan pekerjaan.
“Untuk bisa memiliki minat menjadi perajin batik ternyata tidak mudah. Generasi muda kita masih perlu digugah kesadarannya, masih perlu kita ajak bahwa kerajinan batik merupakan kekayaan yang harus kita pertahankan sampai kapan pun,” ujarnya.
Selain regenerasi perajin, tantangan lainnya adalah semakin maraknya peredaran kain bermotif batik yang dibuat menggunakan teknik cetak atau printing.
Faisol menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama agar batik yang dibuat menggunakan teknik tradisional tetap mendapatkan ruang dan mampu bertahan di tengah perkembangan industri tekstil dan fashion.
Tantangan berikutnya adalah banyaknya produk tiruan atau produk yang menggunakan motif menyerupai batik. Kondisi tersebut dinilai dapat mengaburkan pemahaman masyarakat mengenai perbedaan antara batik sebagai karya yang dibuat dengan teknik tertentu dan kain bermotif batik hasil cetak.
Karena itu, ia mendorong penguatan sinergi berbagai pihak untuk menjaga keberlangsungan batik Indonesia.
Faisol menegaskan bahwa melestarikan batik bukan hanya mempertahankan motif, tetapi juga menjaga proses pembuatannya, melindungi keterampilan tangan para perajin serta merawat nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
Pada saat yang sama, inovasi tetap diperlukan agar batik mampu mengikuti perkembangan zaman dan diterima oleh berbagai segmen pasar.
Ia juga mendorong para perajin untuk melakukan diversifikasi desain dan produk. Menurutnya, inovasi diperlukan agar produk batik tidak hanya hadir dalam bentuk pakaian konvensional, tetapi dapat berkembang menjadi berbagai produk fashion dan kebutuhan gaya hidup.
“Mulai dari produk fashion yang siap pakai, aksesoris, hingga produk kriya penunjang gaya hidup modern. Kita akan mampu menjawab tren dan kebutuhan pasar dari berbagai segmen tanpa kehilangan identitas asli,” jelasnya.
Selain desain, Faisol menekankan pentingnya standardisasi untuk menjaga kualitas produk batik.
Pemenuhan standar, termasuk penggunaan Batikmark, dinilai dapat menjadi salah satu upaya untuk memberikan kepastian kepada konsumen mengenai kualitas produk, termasuk aspek mutu fisik dan ketahanan warna.
Ia mencontohkan batik gentongan dari Tanjung Bumi, Bangkalan, Madura, sebagai salah satu teknik batik yang terus dipertahankan karena memiliki karakteristik dan kualitas yang khas.
“Teknik yang terus dipertahankan menjaga kualitas secara konsisten, sehingga warnanya bisa dipertahankan hingga hari ini,” katanya.
Faisol juga menyoroti pentingnya menjadikan profesi perajin batik sebagai pekerjaan yang menjanjikan bagi generasi muda.
Menurutnya, upaya tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan akses pelatihan, digitalisasi, pengembangan pasar hingga pembukaan akses ke pasar global.
Para perajin, kata dia, perlu dipandang bukan sekadar sebagai pekerja, melainkan sebagai seniman sekaligus penjaga warisan budaya Indonesia.
“Sehingga generasi muda melihat batik itu bukan melihat masa lalu, tapi masa depan yang mencerahkan dan menjanjikan,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Kementerian Perindustrian juga menyampaikan dukungannya terhadap berbagai program dalam rangkaian Hari Batik Nasional 2026. Dukungan tersebut antara lain melalui kegiatan kuliah umum, talkshow, workshop, serta penyerahan Batikmark kepada IKM penerima fasilitasi tahun ini.
Faisol menegaskan, pembangunan ekosistem industri batik yang tangguh, mandiri dan berdaya saing tidak dapat dilakukan oleh pemerintah seorang diri.
Menurutnya, diperlukan kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, asosiasi, pelaku industri, akademisi, komunitas, sektor perbankan sebagai pendukung akses pembiayaan, serta media.
“Pemerintah tidak bisa jalan sendiri. Pemerintah pusat tidak bisa sendirian, pemerintah daerah juga tidak bisa sendirian. Tapi harus bersama-sama dengan asosiasi, pelaku industri, akademisi, komunitas, perbankan dan rekan-rekan media,” ujarnya.
Ia berharap seluruh rangkaian Hari Batik Nasional 2026 dapat memberikan manfaat luas bagi pengembangan industri batik nasional.
Dengan kolaborasi dan inovasi yang berkelanjutan, Faisol meyakini batik Indonesia dapat terus hidup dan berkembang dari generasi ke generasi, sekaligus semakin dikenal di pasar internasional.
“Kami yakin batik Indonesia akan hidup terus selama-lamanya, berdaulat di negeri sendiri, semakin dikenal di kancah global dari generasi ke generasi,” pungkasnya.

















Komentar