SURABAYA – Pemerintah Provinsi Jawa Timur mendorong penguatan konektivitas transportasi berbasis kereta api melalui pengembangan simpul transportasi terintegrasi, reaktivasi jalur kereta api, serta pengembangan layanan kereta regional. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan mobilitas masyarakat, memperlancar konektivitas antardaerah, dan mendukung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.
Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Nyono, S.T., M.T., IPU, menyampaikan bahwa sektor perkeretaapian memiliki peran strategis dalam mewujudkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara menuju pasar dunia.
Hal tersebut disampaikan Nyono dalam Sarasehan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur bertajuk “Gerbang Baru Nusantara: The Next Level – Menguatkan Peran Jawa Timur, Menggerakkan Kemajuan Indonesia, Menuju Gerbang Dunia” yang digelar di atas KRI Makassar 590, Selasa (13/10/2026).
Dalam paparannya, Nyono mengusulkan pengembangan Stasiun Surabaya Gubeng dan Stasiun Surabaya Pasar Turi sebagai simpul utama atau hub perjalanan kereta api di Jawa Timur. Kedua stasiun tersebut dinilai memiliki posisi strategis untuk mengintegrasikan perjalanan kereta api lintas utara dan selatan dengan moda transportasi lainnya.
Menurutnya, pengembangan stasiun perlu diarahkan pada konsep Transit Oriented Development (TOD), yakni penataan kawasan yang mengintegrasikan transportasi publik dengan pusat kegiatan ekonomi, permukiman, dan berbagai fasilitas pendukung.
Melalui konsep tersebut, kawasan stasiun tidak hanya berfungsi sebagai tempat naik dan turun penumpang, tetapi juga menjadi pusat perpindahan antarmoda yang memudahkan mobilitas masyarakat.
Integrasi ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi perjalanan, memperluas akses masyarakat terhadap transportasi publik, sekaligus mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi di sekitar stasiun.
Dorong Pengembangan Kereta Regional Surabaya
Selain pengembangan stasiun sebagai simpul transportasi, Pemprov Jatim juga mendorong pengembangan Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang direncanakan mulai dibangun pada 2028.
Proyek tersebut diarahkan untuk menghadirkan layanan kereta listrik regional yang menghubungkan Surabaya dengan sejumlah wilayah penyangga. Salah satu koridor yang direncanakan menghubungkan Stasiun Gubeng, Wonokromo, hingga Sidoarjo.
Kehadiran layanan kereta regional diharapkan dapat memberikan alternatif perjalanan yang lebih efisien bagi masyarakat, khususnya mereka yang melakukan mobilitas harian untuk bekerja, bersekolah, maupun menjalankan aktivitas ekonomi.
Pengembangan SRRL juga menjadi bagian dari upaya memperkuat integrasi antarmoda, termasuk dengan layanan angkutan umum lainnya, sehingga perjalanan masyarakat dapat berlangsung lebih mudah dan berkesinambungan.
Di samping itu, pengembangan moda transportasi massal lain, seperti Light Rail Transit (LRT) dan Bus Rapid Transit (BRT), turut menjadi bagian dari kajian untuk memperkuat sistem transportasi perkotaan di Jawa Timur.
Reaktivasi Jalur Kereta Api untuk Perluas Konektivitas Daerah
Nyono juga menyoroti pentingnya reaktivasi sejumlah jalur kereta api strategis guna memperluas jangkauan layanan perkeretaapian di Jawa Timur.
Beberapa jalur yang disebut dalam paparannya antara lain Kalisat–Bondowoso, jalur di kawasan Probolinggo dan Lumajang, serta Jombang–Babadan.
Reaktivasi jalur tersebut diharapkan dapat membuka kembali akses transportasi berbasis rel di wilayah yang berpotensi dikembangkan, sekaligus meningkatkan konektivitas antardaerah.
Menurutnya, pengembangan jaringan kereta api tidak hanya berorientasi pada mobilitas penumpang, tetapi juga berpotensi mendukung distribusi barang dan aktivitas ekonomi di berbagai wilayah.
Konektivitas perkeretaapian yang semakin baik diharapkan dapat memberikan alternatif transportasi yang efisien, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, serta mendukung pemerataan pembangunan antara kawasan perkotaan dan daerah penyangga.
Nyono menegaskan, realisasi pengembangan perkeretaapian membutuhkan kolaborasi antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pemerintah kabupaten dan kota, serta Kementerian Perhubungan.
Melalui integrasi layanan kereta api, pengembangan stasiun sebagai pusat perpindahan antarmoda, dan reaktivasi jalur potensial, Jawa Timur diharapkan mampu membangun sistem transportasi yang semakin terhubung dan berdaya saing.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi mewujudkan Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara yang mampu menggerakkan kemajuan Indonesia dan memperkuat konektivitas menuju pasar dunia.














Komentar