Surabaya- Rektor Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Muhammad Madyan, S.E., M.Si., M.Fin memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (FEB UNAIR) / IKAFE Unair dalam rangkaian peringatan Dies Natalis ke-65 FEB UNAIR. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri kegiatan jalan sehat dan senam bersama yang digelar pada Minggu (9/8/2026).
Menurut Prof. Madyan, antusiasme alumni FEB UNAIR terlihat sejak awal rangkaian kegiatan Dies Natalis. Mulai dari acara tasyakuran hingga gala dinner yang digelar pada malam sebelumnya, para alumni hadir dan menunjukkan dukungan luar biasa terhadap almamater mereka.
“Alhamdulillah, para alumni FEB Universitas Airlangga sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Pada acara gala dinner tadi malam seluruh meja terisi penuh dan para alumni datang dari berbagai kota di Indonesia untuk turut merayakan Dies Natalis FEB UNAIR,” ujarnya.
Ia menilai keterlibatan alumni tidak hanya sebatas menghadiri kegiatan seremonial, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan fakultas dan universitas. Salah satunya melalui program Alumni Mengajar yang selama ini berjalan dengan baik.
Melalui program tersebut, alumni kembali ke kampus untuk berbagi pengalaman profesional dan wawasan dunia kerja kepada mahasiswa. Kehadiran mereka dinilai mampu membantu menjembatani kesenjangan antara kebutuhan industri dengan kompetensi yang harus dimiliki lulusan perguruan tinggi.
“Alumni datang ke kampus untuk berbagi pengalaman mereka di dunia kerja. Ini sangat penting agar mahasiswa mendapatkan gambaran nyata mengenai kebutuhan industri dan perusahaan sehingga kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja dapat diperkecil,” jelasnya.
Selain berbagi pengalaman, sejumlah alumni juga berkontribusi dalam bentuk bantuan pendidikan melalui program wakaf pendidikan dan beasiswa bagi mahasiswa. Dukungan tersebut menjadi salah satu sumber penting dalam membantu mahasiswa yang berasal dari keluarga kurang mampu agar tetap dapat melanjutkan pendidikan.
Prof. Madyan mengungkapkan bahwa setiap tahun Universitas Airlangga menerima sekitar 20 persen mahasiswa dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Karena itu, keberadaan program bantuan pendidikan dan dukungan alumni memiliki peran yang sangat strategis.
“Sebagai perguruan tinggi negeri, kami memiliki tanggung jawab untuk memberikan akses pendidikan yang seluas-luasnya. Karena itu kami terus berupaya mencarikan sumber pendanaan bagi mahasiswa yang membutuhkan bantuan,” katanya.
Lebih lanjut, Prof. Madyan menegaskan komitmen Universitas Airlangga untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang terpaksa menghentikan studi hanya karena alasan ekonomi.
“Kami memegang prinsip bahwa tidak boleh ada mahasiswa Universitas Airlangga yang drop out karena persoalan ekonomi. Itu menjadi komitmen yang terus kami jaga,” tegasnya.
Untuk mewujudkan komitmen tersebut, UNAIR memiliki berbagai mekanisme bantuan bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan keuangan selama masa studi. Salah satunya melalui Pusat Pengelolaan Dana Sosial (PUSPAS) yang bertugas memberikan bantuan dan pendampingan kepada mahasiswa yang membutuhkan.
Selain itu, Direktorat Keuangan UNAIR juga membuka peluang penyesuaian Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa yang mengalami perubahan kondisi ekonomi. Mahasiswa dapat mengajukan evaluasi ulang dengan melampirkan dokumen pendukung yang menunjukkan kondisi finansial keluarga.
“Jika mahasiswa benar-benar mengalami kesulitan ekonomi dan dapat membuktikannya, maka universitas akan melakukan peninjauan kembali terhadap besaran UKT yang harus dibayarkan. Kami akan menyesuaikan sesuai kemampuan mahasiswa dan keluarganya,” jelas Prof. Madyan.
Penyesuaian UKT tersebut umumnya dilakukan setelah mahasiswa menjalani beberapa semester dan mengalami perubahan kondisi ekonomi yang signifikan. Dengan kebijakan tersebut, UNAIR berharap mahasiswa tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa terbebani masalah biaya.
Bagi mahasiswa berprestasi, universitas juga aktif membantu menghubungkan mereka dengan berbagai program beasiswa yang disediakan perusahaan, lembaga, maupun mitra pendidikan. Namun bagi mahasiswa yang tidak memenuhi persyaratan akademik untuk memperoleh beasiswa, PUSPAS hadir sebagai salah satu solusi untuk membantu keberlangsungan studi mereka.
“Kalau mahasiswa memiliki prestasi akademik yang baik, kami bantu mencarikan beasiswa dari berbagai lembaga. Namun bagi mahasiswa yang tidak masuk kategori tersebut tetapi tetap membutuhkan bantuan, maka PUSPAS hadir untuk memberikan dukungan sehingga mereka tetap bisa kuliah,” ujarnya.
Melalui sinergi antara alumni, universitas, dan berbagai mitra, Prof. Madyan berharap semakin banyak mahasiswa yang memperoleh kesempatan menyelesaikan pendidikan tinggi tanpa terkendala kondisi ekonomi. Ia juga mengajak para alumni untuk terus memperkuat kontribusinya dalam mendukung pengembangan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Universitas Airlangga.
Menurutnya, semangat gotong royong dan kepedulian yang ditunjukkan alumni FEB UNAIR menjadi bukti bahwa ikatan antara kampus dan alumninya tetap terjaga kuat, sekaligus menjadi modal penting dalam mewujudkan pendidikan tinggi yang inklusif dan berdampak bagi masyarakat luas.














Komentar