SIGI, Central.asia – Krisis pengelolaan sampah akibat luasnya wilayah geografis, efisiensi anggaran, serta keterbatasan jumlah tenaga pengangkut yang memicu munculnya titik-titik pembuangan liar di sejumlah kawasan seperti Desa Sunju, sekitar Jembatan Kasubi, dan Desa Kalukubula. (5/9/2026).
Sebagai solusi, DLH mendorong gerakan akar rumput lewat program “Pakagali Pakagaya Ngata” serta inovasi kearifan lokal berupa pemanfaatan daun pandan hutan untuk menggantikan kantong plastik sekali pakai.
Pemerintah Kabupaten Sigi melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pemerintah desa, pelaku usaha, dan masyarakat luas di Kabupaten Sigi, Kabupaten Sigi, khususnya di Desa Sunju, kawasan Jembatan Kasubi, dan Desa Kalukubula), menggalakkan program kebersihan “Pakagali Pakagaya Ngata”.
Sepanjang tahun anggaran berjalan di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah daerah.Mengapa (Why): Luasnya cakupan wilayah Kabupaten Sigi tidak sebanding dengan daya jangkau armada dan jumlah petugas kebersihan yang menyusut akibat penyesuaian anggaran.
Kondisi ini diperparah oleh rendahnya kesadaran sebagian warga yang tetap membuang sampah sembarangan di titik-titik terlarang, sehingga menuntut adanya kolaborasi pentahelix serta kebangkitan tradisi ekologis rumah tangga.
Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sigi mengoptimalkan peran aktif pemerintah desa untuk mengawasi wilayah rawan sampah, menggalakkan program kebersihan “Pakagali Pakagaya Ngata”, serta mengkampanyekan kembali penggunaan wadah alami dari daun pandan hutan untuk menekan volume sampah plastik dari sumbernya.
Pemerintah memastikan bahwa penanganan kebersihan tidak lagi sekadar mengandalkan petugas formal, melainkan bertransformasi menjadi gerakan sosial mandiri yang berkelanjutan. (Ali)




















Komentar