oleh

FESyar 2026: Gus Luthfillah Habibi Beberkan Strategi Pemberdayaan Masyarakat ala Sidogiri

banner 468x60

SURABAYA — Model pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren dinilai memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi syariah nasional. Melalui pengembangan unit usaha yang terintegrasi, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

banner 336x280


Hal tersebut disampaikan Direktur Utama PT Sidogiri Pandu Utama, Dr. M. Luthfillah Habibi, S.E.I., M.S.A., Ak., saat menjadi narasumber dalam Talkshow Model Pemberdayaan Usaha Syariah pada rangkaian Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026 di Grand City Surabaya, Jumat (25/9/2026).


Dalam paparannya, Luthfillah menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Sidogiri telah lama menjadikan pemberdayaan masyarakat sebagai salah satu pilar utama pengembangan usaha. Selain meningkatkan kemandirian ekonomi pesantren, berbagai unit usaha yang dibangun juga diarahkan untuk membuka lapangan kerja dan memperkuat ekonomi masyarakat sekitar.


Ia menuturkan, pengembangan usaha di lingkungan Pesantren Sidogiri telah berlangsung secara bertahap sejak puluhan tahun lalu. Perkembangan yang semakin pesat mendorong pesantren melakukan ekspansi usaha ke berbagai sektor dan wilayah.


“Pemberdayaan masyarakat menjadi tujuan utama. Bisnis yang dibangun pesantren tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat,” ujarnya.


Menurut Luthfillah, akselerasi bisnis mulai dilakukan secara lebih sistematis sejak 2015 melalui pembentukan sejumlah perusahaan di bawah naungan pesantren. Saat ini, ekosistem bisnis Sidogiri telah berkembang menjadi empat perusahaan yang bergerak di bidang ritel, manufaktur, pelatihan dan teknologi informasi, serta layanan keuangan digital.


Salah satu unit usaha terbesar adalah jaringan ritel Basmalah, yang merupakan singkatan dari Barokah, Syariah, dan Maslahah. Konsep tersebut mencerminkan komitmen perusahaan untuk menghadirkan usaha yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga membawa keberkahan dan kemanfaatan bagi masyarakat.


Luthfillah mengungkapkan, hingga saat ini jaringan Basmalah telah berkembang menjadi sekitar 930 gerai yang tersebar di berbagai daerah, terutama di Jawa Timur, Pulau Jawa, hingga Kalimantan. Keberadaan jaringan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa model bisnis yang lahir dari lingkungan pesantren mampu tumbuh dan bersaing di tingkat nasional.


Selain sektor ritel, Pesantren Sidogiri juga mengembangkan industri manufaktur melalui produk air minum dalam kemasan Santri. Produk tersebut kini telah dipasarkan ke berbagai wilayah Indonesia dan menjadi salah satu lini usaha yang terus berkembang.


Di bidang pengembangan sumber daya manusia, PT Sidogiri Pandu Utama menjalankan berbagai program pelatihan dan peningkatan kapasitas bagi santri maupun masyarakat umum. Menurut Luthfillah, penguasaan teknologi menjadi kebutuhan penting agar generasi muda pesantren mampu bersaing di era digital.


“Sejak awal kami berupaya menyiapkan SDM yang memiliki kemampuan teknologi dan manajemen agar siap menghadapi tantangan dunia usaha yang semakin kompetitif,” katanya.
Sementara itu, inovasi terbaru yang sedang dikembangkan adalah layanan pembayaran digital E-Maal. Saat ini layanan tersebut tengah menjalani proses perizinan dan penguatan sistem sebelum dapat beroperasi secara lebih luas.


Luthfillah berharap kehadiran E-Maal nantinya dapat menjadi bagian dari penguatan ekosistem ekonomi syariah berbasis digital yang terintegrasi dengan berbagai unit usaha pesantren.


Selain mengembangkan bisnis, Sidogiri juga aktif membangun program pemberdayaan usaha mikro masyarakat. Melalui jaringan Basmalah, pelaku usaha kecil dibina dan dihubungkan dengan rantai pasok yang lebih luas sehingga memiliki akses pasar yang lebih pasti.


Program tersebut dilakukan melalui pengembangan usaha binaan yang terintegrasi dengan jaringan distribusi Basmalah. Dengan model itu, pelaku usaha mikro tidak hanya memperoleh pendampingan, tetapi juga mendapatkan peluang untuk memasarkan produknya secara berkelanjutan.


Menurut Luthfillah, pendekatan tersebut menjadi salah satu strategi penting dalam menciptakan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.


Ia menambahkan, koperasi juga menjadi instrumen penting dalam pengembangan ekonomi pesantren. Melalui koperasi, perputaran dana anggota dapat dimanfaatkan untuk memperkuat usaha produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


Dalam kesempatan itu, Luthfillah juga menyoroti pentingnya transformasi digital dalam pengelolaan usaha. Berbagai sistem administrasi dan operasional yang sebelumnya dilakukan secara manual kini mulai beralih ke sistem digital guna meningkatkan efisiensi dan akuntabilitas.


“Digitalisasi menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari. Dengan sistem yang baik, usaha dapat berkembang lebih cepat dan dikelola secara profesional,” ujarnya.


Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa pengembangan industri halal memerlukan perhatian pada sejumlah aspek penting, antara lain standar kualitas produk, sertifikasi dan legalitas, kemasan yang kompetitif, serta konsistensi mutu.


Menurutnya, produk halal tidak cukup hanya memiliki sertifikasi, tetapi juga harus mampu memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan pasar nasional maupun internasional.


Di sisi lain, Luthfillah menekankan pentingnya tata kelola kelembagaan yang sehat dalam pengembangan bisnis pesantren. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah memisahkan secara tegas aset pesantren dengan aset pribadi pengasuh atau kiai.


Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan pengelolaan usaha yang profesional, transparan, dan berkelanjutan sehingga dapat terus berkembang dari generasi ke generasi.


“Pesantren memiliki potensi ekonomi yang luar biasa. Dengan tata kelola yang baik, penguatan SDM, serta dukungan teknologi, pesantren dapat menjadi motor penggerak ekonomi umat yang kuat dan berkelanjutan,” tuturnya.


Melalui pengembangan jaringan usaha, pemberdayaan masyarakat, transformasi digital, dan penguatan ekonomi syariah, Pesantren Sidogiri terus menunjukkan bahwa lembaga pendidikan keagamaan juga mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

banner 336x280

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *