DONGGALA, Central.asia — Kepala SMA Negeri 1 Dampelas, Irham, S.Pd., memberikan tanggapan resmi terkait sorotan publik mengenai dugaan minimnya penerapan Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam proyek revitalisasi sekolah yang bersumber dari dana APBN.
Pihak sekolah menyatakan bahwa imbauan keselamatan kerja telah disampaikan secara masif kepada seluruh warga sekolah sejak awal perencanaan renovasi.
“Jauh-jauh sebelumnya saya sudah sampaikan kepada siswa, guru, termasuk tenaga administrasi, agar tidak mendekati area bangunan yang sedang direnovasi karena jelas memiliki risiko,” ujar Irham saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (10/8/2026).
Terkait penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi para pekerja konstruksi, pihak sekolah mengakui adanya kendala di lapangan. Menurut Irham, para tukang seringkali merasa kurang nyaman mengenakan perlengkapan keselamatan secara utuh karena faktor kebiasaan dan hal tersebut kedepannya akan dilakukan pengawasan mengikuti Standar operasional prosedur (SOP).
“APD sebenarnya sudah disiapkan oleh pihak sekolah, namun terkadang tukang yang kami percaya tidak terbiasa menggunakannya secara utuh. Biasanya mereka hanya memakai rompi dan sepatu, sementara helm sering diabaikan karena merasa tidak nyaman,” jelasnya.
Menanggapi kritik tersebut, pihak sekolah berkomitmen untuk segera melakukan pembenahan dan memperketat pengawasan terhadap para pekerja agar mematuhi standar operasional prosedur (SOP) K3 secara maksimal demi keselamatan bersama di lingkungan sekolah.
Sebelumnya, Ketua DPW Lembaga Pemberantasan Korupsi (LPK) Sulawesi Tengah, Rahman, mendesak instansi terkait untuk mengevaluasi pelaksanaan proyek tersebut guna menghindari risiko kecelakaan kerja bagi pekerja maupun siswa.
Harapannya dengan adanya hal tersebut pihak sekolah akan memastikan bahwa pembenahan penggunaan APD secara lengkap akan segera diterapkan dalam waktu dekat oleh para tenaga kerja di lapangan.(Agus)




















Komentar