SURABAYA — Upaya memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas pertanian di Jawa Timur terus dilakukan melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya diwujudkan melalui panen raya jagung yang melibatkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Polri, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Timur dan Pramuka.
Panen jagung tersebut dilaksanakan pada Jumat (11/9/2026) di Pusat Pelatihan Pertanian Taruna Bhumi, kawasan Greenfarm, Kecamatan Sempu, Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HKTI Jawa Timur.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Heru Suseno, M.T., menyampaikan bahwa panen tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendorong peningkatan produksi jagung sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Dalam kegiatan tersebut, panen dilakukan pada lahan jagung yang dikembangkan melalui kerja sama antara HKTI, Pemprov Jatim dan Polri. Luasan lahan yang dipanen dalam rangkaian program tersebut mencapai sekitar 50 hektare, sementara kegiatan panen raya yang berlangsung di Green Farm Banyuwangi mencakup sekitar 20 hektare.
Heru mengatakan, produktivitas jagung yang dipanen berada di kisaran 8 ton per hektare. Capaian tersebut menunjukkan adanya potensi besar pengembangan jagung, terutama melalui penerapan Jagung yang dikembangkan di kawasan tersebut merupakan jagung hibrida varietas Bhayangkara yang mulai ditanam sejak Mei 2026. dan pengelolaan lahan secara optimal.
“Provitasnya sekitar 8 ton per hektare,” kata Heru.
Menurutnya, pemerintah daerah juga memberikan dukungan terhadap pengembangan komoditas jagung, antara lain melalui dukungan benih serta berbagai kebutuhan penunjang produksi pertanian.
Sementara itu, panen raya di Green Farm Banyuwangi turut dihadiri Ketua DPD HKTI Jawa Timur H.M. Arum Sabil, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nanang Avianto, serta Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
Selain pengembangan varietas, pengelolaan pertanian di Green Farm Banyuwangi juga didukung inovasi pengelolaan air berbasis tenaga surya. Teknologi tersebut ditujukan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan air sekaligus mendorong agar lahan yang sebelumnya kurang produktif dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.
Banyuwangi sendiri menjadi salah satu daerah yang memiliki potensi besar dalam produksi jagung. Pada 2025, produksi jagung di daerah tersebut tercatat mencapai sekitar 250.596 ton, sehingga Banyuwangi mampu mempertahankan surplus komoditas jagung.
Pengembangan jagung melalui kolaborasi lintas sektor ini sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat kedaulatan pangan nasional. Selain meningkatkan produksi, program tersebut diharapkan mampu membuka pemanfaatan lahan secara lebih produktif serta memberikan manfaat ekonomi bagi petani.
Bagi Pemprov Jatim, dukungan terhadap produksi jagung tidak hanya berkaitan dengan peningkatan hasil panen, tetapi juga bagian dari strategi menjaga ketersediaan pangan dan memperkuat sektor pertanian di tengah kebutuhan pangan yang terus meningkat.
Ketua DPD HKTI Jawa Timur Arum Sabil menjelaskan bahwa jagung yang dipanen merupakan varietas hibrida yang mulai ditanam pada Mei 2026.
Kawasan Green Farm juga menjadi tempat pengembangan inovasi benih jagung baru yang diberi nama Kolaborasi Inovasi Polri (KIP). Inovasi tersebut menjadi salah satu hasil kerja sama berbagai pihak untuk mendukung pengembangan pertanian.
Arum menyebut pengembangan tersebut melibatkan Polda Jawa Timur, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, HKTI Jawa Timur, serta Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Kolaborasi itu diharapkan tidak berhenti pada kegiatan panen raya, tetapi berlanjut melalui penelitian, pengembangan benih, peningkatan produktivitas, dan pendampingan sektor pertanian.
Dengan dukungan berbagai pihak, Banyuwangi diharapkan dapat terus memperkuat perannya sebagai salah satu daerah penghasil jagung di Jawa Timur. Pengembangan inovasi pertanian di Green Farm juga diharapkan menjadi salah satu langkah untuk mendukung ketahanan pangan daerah maupun nasional.














Komentar