SURABAYA – Peringatan Hari Anak Nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juli tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen perlindungan dan pemenuhan hak anak di Jawa Timur. Peringatan HAN tahun ini bertema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Salah satu perhatian utama yang terus didorong adalah menciptakan lingkungan yang ramah, aman, dan nyaman bagi anak, termasuk dalam menghadapi tantangan era digital.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Provinsi Jawa Timur, Dra. Sufi Agustini, M.Si., menegaskan bahwa anak harus mendapatkan ruang untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya.
“Ramah. Kita memberikan ruang untuk anak-anak supaya anak-anak itu lebih nyaman, aman untuk bermain sesuai dengan usianya,” ujar Sufi.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital membawa tantangan tersendiri bagi tumbuh kembang anak. Karena itu, penggunaan gawai perlu diatur dan dibatasi secara bijak. Namun, pembatasan tersebut bukan berarti melarang anak sepenuhnya menggunakan perangkat digital.
“Sekarang penekanannya dengan membatasi anak untuk menggunakan gawai. Itu yang perlu kita sosialisasikan. Bukan berarti menutup, tetapi tetap ada aturannya,” jelasnya.
Sufi mengatakan, edukasi terkait penggunaan teknologi secara sehat dan bijak terus dilakukan DP3AK Jatim melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Pendidikan. Sosialisasi telah dilakukan di sejumlah sekolah maupun lingkungan perguruan tinggi.
Ia menegaskan, upaya pencegahan kekerasan terhadap anak serta perlindungan anak tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah, sekolah, keluarga, organisasi masyarakat, hingga berbagai sektor lainnya.
“Pencegahan itu untuk semua lini. Tentunya kita tidak bekerja sendiri, tetapi semua elemen, semua sektor, masyarakat, dan organisasi kita ajak bersama-sama untuk mengantisipasi dan menekan angka kekerasan yang ada di dunia anak-anak,” katanya.
Selain pengawasan terhadap penggunaan gawai, Sufi menilai penguatan mental dan karakter anak juga menjadi hal penting. Anak perlu dibekali kemampuan untuk menghadapi derasnya arus digitalisasi dan globalisasi agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai informasi maupun konten di dunia maya.
Menurutnya, anak-anak sejak dini perlu mendapatkan pendidikan mengenai etika dalam menggunakan teknologi digital. Penggunaan gawai harus diimbangi dengan pemahaman tentang tanggung jawab, sopan santun, serta kemampuan menyaring informasi.
“Anak-anak dari dini perlu diingatkan untuk lebih beretika dalam menggunakan digitalisasi,” tegasnya.
Dalam upaya tersebut, DP3AK Jatim juga menyasar para orang tua. Menurut Sufi, pola pengasuhan atau parenting memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan melindungi anak dari berbagai ancaman.
Edukasi kepada orang tua dilakukan melalui berbagai organisasi masyarakat serta Tim Penggerak PKK. Orang tua diharapkan tidak hanya mengawasi anak, tetapi juga membangun komunikasi dan memberikan pendampingan dalam kehidupan sehari-hari.
Sufi mengingatkan agar anak-anak dibekali nilai-nilai sopan santun, baik kepada orang tua maupun orang lain. Selain itu, anak juga perlu diajarkan untuk tidak mudah percaya kepada orang yang baru dikenal.
“Anak harus tetap diajarkan sopan santun kepada orang tua dan orang lain. Selain itu, jangan mudah percaya begitu saja dengan orang yang baru dikenal,” pesannya.
Kepala DP3AK Jatim itu juga menyampaikan pesan kepada anak-anak di Jawa Timur agar terus membangun karakter dan mengembangkan potensi diri sebagai generasi penerus bangsa.
“Anak-anak Indonesia, khususnya anak-anak di Jawa Timur, ayo kita dari anak-anak ini membangun Jawa Timur untuk lebih baik, berkarakter, dan membangun anak-anak cerdas untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” ujarnya.
Ia juga mendorong anak-anak untuk memanfaatkan waktu sesuai dengan tahapan usianya. Salah satunya dengan kembali mengenalkan permainan tradisional sebagai kegiatan positif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap gawai.
Menurutnya, permainan tradisional tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga dapat mendorong anak untuk berinteraksi, bergerak aktif, bekerja sama, serta mengembangkan kreativitas.
Melalui momentum Hari Anak Nasional, DP3AK Jawa Timur berharap seluruh pihak semakin memperkuat komitmen menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, ramah, dan mendukung tumbuh kembang anak. Perlindungan anak, kata Sufi, merupakan tanggung jawab bersama demi mewujudkan generasi Jawa Timur yang sehat, cerdas, berkarakter, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.



















Komentar