SURABAYA – Ir. Nyoman Gunadi, ST., MT, turut dilantik sebagai Pengurus Wilayah Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur masa bakti 2026–2029.
Dalam kepengurusan yang I Nyoman Gunadi yang juga selaku Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Provinsi Jawa Timur, dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan.
Pelantikan Pengurus Wilayah PII Jawa Timur masa bakti 2026–2029 dilakukan oleh Ketua Umum PII Pusat Ilham Akbar Habibie dan disaksikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu (25/7/2026).
Keterlibatan Nyoman Gunadi dalam kepengurusan PII Jawa Timur dinilai strategis, mengingat pengalamannya sebagai pimpinan perangkat daerah yang memiliki tanggung jawab besar dalam pengelolaan sumber daya air dan pembangunan infrastruktur di Jawa Timur.
Posisi tersebut juga sejalan dengan komitmen PII Jawa Timur untuk memperkuat kontribusi profesi keinsinyuran dalam mendukung pembangunan daerah. Ketua PII Jatim Gentur Prihantono Sandjoyo Putro sebelumnya menegaskan, kepengurusan baru akan memperkuat sinergi dengan pemerintah, termasuk dengan melibatkan sejumlah pejabat Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang memiliki latar belakang teknik.
Menurut Gentur, keterlibatan para pejabat teknis dalam kepengurusan PII penting untuk memperkuat kolaborasi dalam menghadapi berbagai persoalan pembangunan.
“Kalau ada kegiatan keteknikan, masalah bencana alam, masalah jalan, konstruksi bangunan, konstruksi air, mereka bisa membantu memberikan solusi dan memberikan masukan,” ujarnya.
Selain Nyoman Gunadi, sejumlah tokoh juga dipercaya memimpin bidang strategis dalam kepengurusan PII Jatim masa bakti 2026–2029.
Di antaranya Dr. Ir. Fachrul Kurniawan, ST., M.MT., IPU sebagai Ketua Bidang Teknologi Informasi dan Sistem Cerdas; Dr. Ir. Widjonarko, ST., MT., IPU, Asean Eng sebagai Ketua Bidang Teknologi Industri dan Ilmu Terapan; serta Dr. Anggra Ayu Rucitra, ST., M.MT sebagai Ketua Bidang Arsitektur dan Pengembangan Wilayah.
Selanjutnya, Prof. Dr. Sc. Asep Awaludin Prihanto, S.Pi., MP dipercaya memimpin Bidang Ketahanan Pangan dan Sumber Daya Alam, sedangkan Dr. Ir. Nyono, ST., MT., IPU yang juga Kadishub Prov Jatim dipercaya sebagai Ketua Bidang Perhubungan dan Supply Chain Management.
Dengan komposisi tersebut, PII Jawa Timur diharapkan mampu memperkuat kolaborasi lintas disiplin dalam mendukung pembangunan Jawa Timur, mulai dari infrastruktur, sumber daya air, lingkungan, teknologi, industri, ketahanan pangan, hingga transportasi dan rantai pasok.
Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur masa bakti 2026–2029, Gentur Prihantono Sandjoyo Putro, melibatkan sejumlah kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Provinsi Jawa Timur dalam kepengurusan PII Jatim.
Menurut Gentur, keterlibatan para kepala OPD tersebut penting untuk memperkuat sinergi antara PII dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, khususnya dalam menghadapi berbagai persoalan teknis pembangunan.
Ia menyebut, sejumlah kepala OPD yang memiliki latar belakang keinsinyuran diharapkan dapat menjadi bagian dari kolaborasi dalam memberikan solusi terhadap berbagai persoalan di lapangan.
“Karena mereka orang teknik, penting untuk ikut mendorong. Kalau ada kegiatan keteknikan, masalah bencana alam, masalah jalan, konstruksi bangunan, konstruksi air, mereka bisa membantu memberikan solusi dan memberikan masukan,” ujar Gentur.
Gentur menegaskan, keterlibatan kepala OPD dalam organisasi profesi keinsinyuran bukan sekadar formalitas. Kehadiran mereka diharapkan dapat memperkuat komunikasi dan kolaborasi antara pemerintah daerah dengan para insinyur yang memiliki kompetensi di berbagai bidang.
Ia menyampaikan, dirinya telah berkomunikasi dengan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa terkait keterlibatan sejumlah pejabat OPD dalam kepengurusan PII Jatim.
“Sudah saya sampaikan kepada Ibu Gubernur, ada beberapa OPD yang saya ajak masuk dalam kepengurusan karena mereka orang teknik,” katanya.
Menurutnya, banyak persoalan pembangunan membutuhkan pendekatan teknis dan keinsinyuran yang tepat. Mulai dari pembangunan jalan, konstruksi bangunan, sumber daya air, hingga penanganan persoalan kebencanaan.
Dengan masuknya para pejabat teknis pemerintahan dalam kepengurusan PII, Gentur berharap sinergi antara organisasi profesi dan pemerintah dapat berjalan lebih efektif.
“Kalau ada masalah teknis, mereka bisa diajak berpikir dan memberikan solusi. Karena itu mereka perlu dilibatkan dalam organisasi,” jelasnya.
Selain memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, PII Jawa Timur pada masa bakti 2026–2029 juga akan fokus pada penguatan sumber daya manusia keinsinyuran, peningkatan kompetensi dan sertifikasi profesi, serta pengembangan kerja sama dengan perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai organisasi profesi.
Gentur menilai, sinergi antara PII dan pemerintah daerah akan semakin penting dalam mendukung pembangunan Jawa Timur yang membutuhkan kompetensi teknis dan profesional di berbagai sektor.
“PII bukan hanya berbicara tentang bangunan. Keinsinyuran juga mencakup pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, kehutanan, dan berbagai sektor lainnya,” pungkasnya.
Sedangkan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mendorong Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Jawa Timur untuk memperkuat kontribusinya dalam pembangunan sektor ketahanan pangan.
Khofifah menilai, keberadaan Bidang Ketahanan Pangan dan Sumber Daya Alam dalam struktur kepengurusan PII Jatim memiliki potensi besar untuk mendukung berbagai program prioritas pembangunan di Jawa Timur.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki kekuatan besar di sektor pangan. Selama tujuh tahun berturut-turut, produksi padi Jawa Timur tercatat menjadi yang tertinggi di Indonesia. Bahkan, pada semester pertama 2026, produksi padi Jawa Timur kembali mengalami peningkatan sekitar 5,19 persen.
“Ketahanan pangan di Indonesia, menurut saya, kekuatan Jawa Timur sebetulnya luar biasa,” ujar Khofifah.
Namun, Khofifah menyebut masih terdapat sejumlah tantangan yang membutuhkan dukungan keahlian para insinyur. Salah satunya adalah optimalisasi sistem irigasi tersier, khususnya dalam menghadapi musim kemarau.
Ia mendorong adanya pengembangan sumur bor berbasis lahan pertanian, termasuk perhitungan kebutuhan air dan luas lahan yang dapat disuplai secara efektif.
“Ini menurut saya tugas penting kita bersama. Banyak sekali membutuhkan para insinyur untuk membantu bagaimana di musim kemarau, irigasi tersier ini relatif bisa kita supply,” jelasnya.
Selain sektor padi dan irigasi, Khofifah juga mendorong penguatan sektor peternakan untuk mendukung upaya swasembada daging. Ia menyebut Jawa Timur memiliki potensi besar melalui pengembangan teknologi inseminasi buatan dan pembibitan ternak.
Menurutnya, berbagai inovasi peternakan yang telah dikembangkan di Jawa Timur, termasuk melalui Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari, dapat menjadi modal penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor daging.
Khofifah juga menyoroti potensi besar Jawa Timur dalam produksi tebu, jagung, susu, serta perikanan. Menurutnya, kekuatan tersebut perlu terus dikembangkan melalui pendekatan berbasis teknologi, riset, dan keahlian profesi.
Karena itu, ia berharap PII Jatim dapat memberikan pendampingan serta solusi teknis yang dapat diimplementasikan secara langsung di lapangan.
“Sesungguhnya kekuatan PII yang ternyata punya bidang ketahanan pangan ini banyak bisa membantu pendampingan dari proses-proses yang sekarang menjadi program prioritas pemerintah,” katanya.
Khofifah juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, PII, perguruan tinggi, dan berbagai pihak lainnya untuk memperkuat ketahanan pangan Jawa Timur.
Sementara itu, dalam kepengurusan PII Jawa Timur masa bakti 2026–2029, Bidang Ketahanan Pangan dan Sumber Daya Alam dipimpin Prof. Dr. Sc. Asep Awaludin Prihanto, S.Pi., MP.
Dengan adanya bidang khusus tersebut, Khofifah berharap PII Jatim dapat semakin aktif memberikan kontribusi nyata dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan, khususnya yang berkaitan dengan irigasi, pertanian, peternakan, perikanan, dan sektor pangan lainnya.
“Ini bisa menjadi salah satu penguat di Jawa Timur, di luar program prioritas nasional, untuk membangun penguatan sektor ketahanan pangan,” pungkasnya.



















Komentar