Ketua PGRI Jatim Djoko Adi Walujo: Guru Harus Adaptif Hadapi AI, Jangan Teknofobia maupun Teknomania
MALANG – Peluncuran Program PGRI Power SLCC PGRI Kabupaten Malang yang digelar di Gedung PGRI Kabupaten Malang, Sabtu (1/8/2026), menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan untuk memperkuat kompetensi guru dalam menghadapi era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Dalam forum tersebut, Ketua PGRI Jawa Timur Dr. H. Djoko Adi Walujo, S.T., M.M., DBA. menegaskan bahwa kemampuan beradaptasi menjadi kunci utama bagi guru dalam menghadapi perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Menurutnya, perubahan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Karena itu, para pendidik harus mampu menyesuaikan diri dengan kemajuan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan dan pendidikan karakter.
“The key of life itu adaptasi. Orang yang mampu beradaptasi akan lebih mudah menghadapi berbagai perubahan, termasuk perkembangan teknologi dan Artificial Intelligence,” ujar Djoko Adi Walujo di hadapan ribuan guru yang hadir.
Ia menjelaskan bahwa dalam menghadapi perkembangan AI, guru tidak boleh terjebak pada dua sikap ekstrem, yakni teknofobia atau takut terhadap teknologi, serta teknomania yang terlalu bergantung pada teknologi.
Menurutnya, guru yang mengalami teknofobia akan tertinggal karena enggan mempelajari berbagai inovasi baru. Sebaliknya, guru yang mengalami teknomania berisiko kehilangan sentuhan humanisme dalam proses pendidikan.
“Jangan sampai kita takut terhadap teknologi, tetapi juga jangan sampai menjadi budak teknologi. Yang kita butuhkan adalah keseimbangan sehingga teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung proses belajar mengajar sekaligus tetap membangun karakter dan budi pekerti peserta didik,” tegasnya.
Djoko menilai perkembangan AI sesungguhnya dibuat untuk memudahkan manusia. Karena itu, guru tidak perlu khawatir atau merasa kesulitan mempelajarinya. Ia mendorong para pendidik untuk terus meningkatkan kemampuan melalui pembelajaran mendalam (deep learning) dan memanfaatkan berbagai platform digital secara produktif.
Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan pentingnya memahami cara kerja data dan algoritma di era digital. Menurutnya, semakin banyak konten positif yang diproduksi dan disebarluaskan, maka semakin besar pula peluang untuk membangun citra positif lembaga pendidikan maupun organisasi profesi guru.
Karena itu, Djoko mengajak seluruh anggota PGRI untuk aktif mempromosikan program-program pendidikan yang bermanfaat, termasuk PGRI Power Kabupaten Malang, melalui berbagai media sosial dan platform digital.
“Kalau kita ingin dikenal dan memberi manfaat yang lebih luas, maka kita harus hadir di ruang digital dengan konten-konten yang positif dan edukatif,” katanya.
Lebih lanjut, Djoko memberikan apresiasi atas inovasi yang ditampilkan dalam peluncuran PGRI Power Kabupaten Malang. Ia mengaku terkesan dengan kreativitas para guru yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menghasilkan karya-karya inovatif.
Menurutnya, kemajuan yang ditunjukkan para guru saat ini membuktikan bahwa dunia pendidikan Indonesia mampu mengikuti perkembangan zaman dan terus bertransformasi.
Di akhir sambutannya, Djoko juga menyinggung aspirasi para guru terkait pencairan gaji ke-13 bagi guru SMA, SMK, dan SLB. Ia memastikan bahwa PGRI Jawa Timur terus memperjuangkan hak-hak guru melalui berbagai forum komunikasi dengan pemerintah daerah dan DPRD Jawa Timur.
“Yang terpenting adalah terus berjuang, berkomunikasi, dan berdoa. Hak-hak guru akan terus kami kawal agar mendapatkan perhatian sebagaimana mestinya,” pungkasnya.
Peluncuran PGRI Power SLCC PGRI Kabupaten Malang sendiri mengusung semangat membangun guru profesional untuk transformasi pendidikan Indonesia melalui pemanfaatan AI dan inovasi, serta diikuti ribuan guru dari berbagai wilayah di Kabupaten Malang.



















Komentar