SURABAYA – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. Dr. (HC). H. Susilo Bambang Yudhoyono, M.A.(SBY), menggelar pameran tunggal lukisan bertajuk “Susilo Bambang Yudhoyono Presiden RI ke-6” di Voza Tower Lantai 25, Jalan Mayjen HR. Muhammad No. 31, Putat Gede, Kecamatan Sukomanunggal, Surabaya.

Pameran yang berlangsung 16–29 September 2026 tersebut dibuka untuk masyarakat secara gratis. Pengunjung dapat menikmati karya-karya lukisan SBY setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00 WIB.

Dalam sambutannya, SBY menyampaikan bahwa pameran seni tersebut tidak sekadar menjadi ruang untuk menampilkan karya, tetapi juga menjadi bagian dari refleksi perjalanan hidupnya setelah tidak lagi aktif dalam pemerintahan.
SBY mengaku dirinya tidak pernah menempuh pendidikan formal di bidang seni. Namun, kecintaannya terhadap seni telah tumbuh sejak masa remaja.
“I have to confess, saya tidak pernah sekolah di jurusan seni. I did not attend art school in my life. Tetapi I love art,” ujar SBY.
Ia menceritakan, sejak duduk di bangku SMP dan SMA, dirinya telah aktif dalam berbagai kegiatan seni. Saat itu, SBY bahkan sempat memiliki cita-cita menjadi seniman maupun pemain bola voli.
Menurutnya, perjalanan hidup kemudian membawanya ke jalur yang berbeda. Setelah memasuki Akademi Militer, aktivitasnya di dunia seni semakin terbatas. Apalagi selama sekitar 30 tahun dirinya menjalani pengabdian dalam pemerintahan dan negara.
“Saya aktif di dunia seni, tetapi kemudian ada sedikit game change dalam perjalanan hidup saya. Saya aktif di dunia seni, tetapi kemudian terpilih dari sekitar 110 orang yang masuk jurusan militer,” katanya.
Setelah sekitar 30 tahun berada dalam pemerintahan dan negara, SBY mengatakan dirinya mulai kembali kepada kehidupan masyarakat luas pada 2014.
Momentum tersebut sekaligus menjadi masa penting dalam kehidupannya. SBY menyebut kepergian sang istri, Ani Yudhoyono, menjadi ujian besar sekaligus membuat dirinya melakukan kontemplasi lebih dalam mengenai kehidupan.
“Dari situlah saya melakukan kontemplasi, dan saya lebih mengerti tentang makna kehidupan,” tuturnya.
Dari proses perenungan tersebut, SBY kemudian terdorong untuk melakukan berbagai aktivitas yang menurutnya memiliki makna, termasuk melukis, menulis, menciptakan lagu dan musik.
Ia menyebut aktivitas seni menjadi salah satu cara untuk membangun harapan dari hari ke hari.
“Jadi ada dorongan hati agar saya melakukan sesuatu yang bermakna dan membangun harapan hari demi hari. Itulah konsep kehidupan yang berkesenian,” ungkapnya.
SBY juga menilai seni memiliki kekuatan untuk menghadirkan kasih sayang, harapan, serta nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.
Selain berbicara mengenai perjalanan seninya, SBY dalam kesempatan tersebut turut menyampaikan pandangannya mengenai hubungan antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat.
Menurutnya, ketiga unsur tersebut memiliki peran penting dalam membangun kehidupan masyarakat dan perekonomian nasional.
“Mereka sudah membantu bagi pemerintahan, termasuk bagi rakyat-rakyat. Sisi politik, sisi negara, sisi pemerintahan. Yang kedua adalah para pemimpin dunia usaha, para investor. Yang ketiga para budayawan, termasuk saya di sini,” katanya.
SBY menegaskan, apabila negara, dunia usaha dan masyarakat dapat berjalan bersama, maka pertumbuhan ekonomi akan berlangsung dengan lebih baik dan berkeadilan.
“Jika negara, dunia usaha dan masyarakat menjadi satu, pasti ekonomi akan bertumbuh dengan baik, tumbuh berkeadilan, dan semuanya bisa mendapatkan kesejahteraan rakyat,” ujarnya.
Ia pun menekankan pentingnya membangun kepercayaan atau trust antara pemerintah dan dunia usaha. Menurut SBY, masing-masing pihak harus menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik agar pembangunan nasional dapat berjalan optimal.
“Together, yes, we can. Together, we are strong. Pemerintahan dan dunia usaha satu,” tegasnya.
Bagi SBY, perekonomian merupakan salah satu faktor paling penting dalam menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat.
“Ekonomi, mother of all issues, of all problems, of all hope,” katanya.
Menurut dia, ketika perekonomian tumbuh dengan baik, maka lapangan pekerjaan akan semakin terbuka, dunia usaha berkembang, masyarakat memperoleh kesempatan meningkatkan kesejahteraan, sementara negara juga mendapatkan pemasukan untuk menjalankan pemerintahan.
Karena itu, SBY optimistis terhadap masa depan Indonesia apabila seluruh elemen bangsa dapat bekerja bersama, menjaga keadilan dan demokrasi, serta memberikan kontribusi sesuai bidang masing-masing.
Ia juga menyampaikan bahwa pemerintahan saat ini maupun pemerintahan sebelumnya menghadapi berbagai tantangan. Namun, menurutnya, tantangan tersebut harus dihadapi secara bersama-sama.
“Kita semua berhasil dalam membantu Indonesia, menegakkan keadilan dan menjaga demokrasi. Itulah sebetulnya tugas pemerintah, tugas negara, tugas demokrasi,” katanya.
SBY berharap semangat kebersamaan antara pemerintah, dunia usaha dan masyarakat dapat terus dijaga demi membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.
“Masa depan Indonesia manis, masa depan kita semangat,” ucapnya.
Di sisi lain, SBY juga mengungkapkan bahwa dirinya masih merasa sebagai pembelajar dalam dunia seni dan kepenulisan. Ia mengatakan baru sekitar lima tahun menekuni aktivitas menulis secara lebih serius.
Ia pun memohon dukungan dan doa agar dapat terus berkarya melalui seni dan tulisan.
“Saya belum termasuk penulis yang profesional. Kategori menjadi penulis profesional menurut saya minimal 10–15 tahun. Saya baru lima tahun,” ujar SBY.
Melalui pameran tunggal di Surabaya ini, SBY berharap karya seni yang ditampilkan dapat menjadi bagian dari perjalanan untuk memahami kehidupan sekaligus menghadirkan pesan-pesan positif bagi masyarakat.
Ia menutup sambutannya dengan mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persahabatan, kebersamaan dan semangat membangun Indonesia.
“Semoga persahabatan kita abadi. Dan semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan bimbingan kepada kita semua,” pungkasnya.














Komentar