SURABAYA – Ketua DPP Asosiasi Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (ATAKI) Jawa Timur, H. Baso Juherman, SP, SH, M.HP, menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi tenaga ahli konstruksi dalam menghadapi risiko gempa bumi.
Hal tersebut disampaikan Baso saat menjadi narasumber dalam Workshop Online Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) VIII bertema “Resiliensi Bangunan Gedung: Analisis Ancaman Gempa, Evaluasi dan Rehabilitasi Seismik serta Penilaian dan Penanganan Pasca-Gempa”, Senin (28/9/2026).
Menurut Baso, posisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire menjadi realitas yang menuntut seluruh pihak, khususnya tenaga ahli konstruksi, untuk selalu siap menghadapi risiko gempa bumi.
“Indonesia berada di wilayah Ring of Fire, sebuah realitas geografis yang menuntut kita untuk selalu siap berdampingan dengan risiko gempa bumi,” ujarnya.
Baso menekankan, tenaga ahli konstruksi memiliki tanggung jawab moral yang besar karena kualitas perencanaan, pembangunan, evaluasi dan penanganan bangunan gedung berkaitan langsung dengan keselamatan masyarakat.
Kesalahan dalam perencanaan maupun penanganan bangunan gedung, kata dia, bukan hanya berpotensi menimbulkan kerugian secara materi, tetapi juga dapat berdampak terhadap keselamatan jiwa manusia.
“Sebagai tenaga ahli konstruksi, kita memikul tanggung jawab moral yang sangat besar. Kesalahan dalam perencanaan dan penanganan bangunan gedung bukan sekadar kerugian materi, melainkan taruhan keselamatan jiwa manusia,” tegasnya.
Karena itu, Baso mengatakan DPP ATAKI Jawa Timur berkomitmen untuk terus memfasilitasi peningkatan kompetensi para anggotanya melalui kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan.
Menurutnya, tema resiliensi bangunan gedung yang diangkat dalam workshop tersebut memiliki cakupan yang komprehensif karena membahas keseluruhan tahapan dalam menghadapi risiko bencana.
Mulai dari analisis ancaman gempa, evaluasi dan rehabilitasi seismik, hingga penilaian dan penanganan pascagempa menjadi bagian penting yang perlu dipahami oleh tenaga ahli konstruksi.
“Tema resiliensi bangunan gedung yang kita angkat hari ini mencakup siklus mitigasi bencana yang sangat komprehensif. Mulai dari analisis ancaman gempa, evaluasi dan rehabilitasi seismik, hingga penilaian dan penanganan pascagempa,” jelasnya.
Baso menilai dunia profesi konstruksi terus bergerak secara dinamis. Tantangan baru, perubahan regulasi dan perkembangan teknologi membuat tenaga profesional dituntut untuk terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.
Ia menegaskan bahwa kegiatan pengembangan keprofesian berkelanjutan tidak seharusnya dipandang sekadar sebagai pemenuhan kewajiban administratif.
Sebaliknya, kegiatan tersebut merupakan investasi strategis untuk menjaga relevansi keahlian, meningkatkan kompetensi, sekaligus memperkuat daya saing tenaga ahli konstruksi di tingkat nasional maupun global.
“Dunia profesi kita bergerak dengan sangat dinamis. Tantangan baru, regulasi mutakhir dan perkembangan teknologi menuntut kita untuk tidak pernah berhenti belajar,” katanya.
“Workshop online ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban administratif, melainkan investasi strategis guna menjaga relevansi, meningkatkan kompetensi dan memperkuat daya saing keahlian kita di tingkat nasional maupun global,” imbuh Baso.
Melalui program PKB tersebut, Baso berharap para peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mendapatkan wawasan praktis yang dapat diterapkan secara langsung dalam pekerjaan.
Ia mendorong peserta untuk aktif menyerap ilmu dari para pakar, berdiskusi, serta memanfaatkan forum tersebut sebagai ruang bertukar pengalaman dan pengetahuan.
“Saya berharap kita semua dapat menyerap ilmu dari para pakar, berdiskusi secara aktif dan membawa pulang wawasan praktis yang bisa langsung diterapkan dalam dunia kerja nyata,” tuturnya.
Baso juga mengajak seluruh peserta menjadikan ruang pembelajaran daring tersebut sebagai wadah kolaborasi yang produktif bagi para tenaga profesional konstruksi.
Menurutnya, peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu bagian penting dalam membangun infrastruktur yang tangguh dan memiliki tingkat resiliensi yang baik terhadap berbagai risiko bencana.
“Bertanyalah, berdiskusi dan gali ilmu sebanyak-banyaknya dari para pakar kita hari ini demi mewujudkan infrastruktur Indonesia yang tangguh dan resilien,” ajaknya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat memberikan manfaat bagi pengembangan kapasitas para tenaga ahli sekaligus memperkuat profesionalisme dan kualitas penyelenggaraan konstruksi di Indonesia.
Baso menutup pemaparannya dengan mengajak seluruh anggota ATAKI dan peserta workshop untuk terus mengembangkan diri serta bersama-sama memajukan profesi tenaga ahli konstruksi.
“Selamat mengembangkan diri, dan mari kita bersama-sama memajukan profesi kita tercinta,” pungkasnya.




















Komentar