SURABAYA – Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, Dr. Ir. Indyah Aryani, M.M., menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki peran strategis dalam menopang ketahanan dan kedaulatan pangan nasional, khususnya melalui produksi protein hewani dari sektor peternakan.
Hal tersebut disampaikannya dalam Sarasehan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur bertajuk “Gerbang Baru Nusantara: The Next Level – Menguatkan Peran Jawa Timur, Menggerakkan Kemajuan Indonesia, Menuju Gerbang Dunia” yang digelar di atas KRI Makassar 590, Selasa (13/10/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Indyah mewakili sektor agrokompleks yang meliputi pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan. Ia menyampaikan bahwa Jawa Timur tidak hanya berorientasi pada ketahanan pangan, tetapi juga terus bergerak menuju kedaulatan pangan sebagaimana menjadi perhatian Gubernur Jawa Timur.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki kapasitas produksi peternakan yang besar dan menjadi salah satu pemasok utama kebutuhan protein hewani bagi berbagai wilayah di Indonesia, terutama kawasan Indonesia bagian timur.
Komoditas unggulan yang dihasilkan meliputi daging sapi, telur, susu sapi, dan daging ayam. Besarnya kapasitas produksi tersebut menjadi modal penting bagi Jawa Timur untuk memperkuat posisinya sebagai penopang kebutuhan pangan nasional.
“Jawa Timur sekarang menjadi ikon terkait ketahanan pangan. Ibu Gubernur selalu menyampaikan bahwa Jawa Timur sudah mengarah kepada kedaulatan pangan. Produksi kita cukup besar dan menopang kebutuhan Indonesia, terutama Indonesia bagian timur,” ungkap Indyah.
Produksi Melimpah, Distribusi Jadi Tantangan
Meski memiliki kapasitas produksi yang besar, Indyah mengungkapkan bahwa sektor peternakan Jawa Timur masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah menjaga kesehatan hewan sekaligus memastikan keberlanjutan produksi di tengah ancaman penyakit hewan menular.
Ia menjelaskan bahwa sektor peternakan memiliki karakteristik berbeda dengan sektor pangan lainnya karena berkaitan langsung dengan makhluk hidup yang rentan terhadap penyakit.
Salah satu tantangan yang pernah dihadapi adalah wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang kembali merebak pada 2022 setelah Indonesia sebelumnya dinyatakan bebas dari penyakit tersebut.
Wabah tersebut berdampak terhadap populasi dan produktivitas ternak. Untuk mengendalikan penyebarannya, pemerintah terus melakukan berbagai upaya, termasuk vaksinasi pada populasi ternak yang menjadi sasaran program.
Indyah menyampaikan bahwa cakupan vaksinasi yang disebutkan dalam paparannya telah mencapai sekitar 80 persen dari populasi sasaran. Namun, upaya pengendalian penyakit tetap perlu dilanjutkan untuk menjaga kesehatan dan produktivitas ternak.
Selain PMK, penyakit hewan menular lainnya serta persoalan kesehatan pada sektor unggas juga menjadi perhatian yang memerlukan pengawasan dan penanganan berkelanjutan.
Di sisi lain, Jawa Timur menghadapi tantangan berupa produksi telur yang melimpah atau oversupply. Kondisi ini menuntut strategi distribusi yang lebih luas agar hasil produksi peternak dapat terserap pasar secara optimal.
Menurut Indyah, pemerintah provinsi terus mendorong perluasan distribusi komoditas peternakan ke provinsi-provinsi yang bukan merupakan daerah produsen utama.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah melalui program misi dagang yang membuka akses pasar antardaerah sekaligus mempertemukan produsen dengan calon pembeli.
Melalui upaya tersebut, produk peternakan Jawa Timur diharapkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas, menjaga stabilitas penyerapan hasil produksi, serta memberikan nilai tambah bagi peternak.
Perluas Pasar Ekspor, Telur Jatim Dibidik Tembus Singapura
Selain memperkuat distribusi antardaerah, Dinas Peternakan Jawa Timur juga mendorong perluasan pasar internasional bagi produk peternakan.
Indyah menyebut Singapura sebagai salah satu pasar potensial yang tengah dijajaki untuk produk telur asal Jawa Timur. Namun, proses masuk ke pasar tersebut membutuhkan pemenuhan persyaratan yang ketat, terutama berkaitan dengan keamanan pangan, kesehatan hewan, dan standar produk.
Ia menjelaskan bahwa upaya penjajakan telah dilakukan, termasuk melalui proses analisis risiko yang berkaitan dengan persyaratan perdagangan.
Dalam paparannya, Indyah menyampaikan bahwa produk hatching egg atau telur tetas dari Jawa Timur telah memperoleh akses untuk masuk ke Singapura. Telur tersebut nantinya akan ditetaskan untuk mendukung kebutuhan produksi unggas di negara tujuan.
Sementara itu, untuk telur konsumsi, proses penjajakan masih terus berlangsung.
Menurutnya, perluasan pasar ekspor menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing produk peternakan Jawa Timur sekaligus mengoptimalkan produksi yang tersedia.
Dengan terbukanya akses ke pasar internasional, peternak diharapkan memperoleh peluang pemasaran yang lebih luas dan tidak hanya bergantung pada permintaan domestik.
Pabrik GPS di Malang Dukung Kemandirian Industri Ayam
Tantangan lain yang disoroti Indyah adalah ketergantungan industri perunggasan nasional terhadap impor bibit ayam, khususnya pada tingkat Grand Parent Stock (GPS).
GPS merupakan generasi bibit unggas yang berperan dalam menghasilkan Parent Stock (PS), yang selanjutnya menghasilkan ayam komersial atau Final Stock untuk dibudidayakan oleh peternak.
Menurut Indyah, ketergantungan terhadap bibit impor menjadi salah satu tantangan strategis yang perlu diatasi untuk memperkuat kemandirian industri perunggasan nasional.
Ia menyampaikan bahwa Jawa Timur mendapat perhatian dan apresiasi dari Menteri Pertanian melalui rencana pembangunan fasilitas produksi GPS di Malang.
Fasilitas tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas produksi bibit ayam nasional, terutama dari sisi genetika, sehingga rantai produksi perunggasan dapat berkembang secara lebih mandiri.
Melalui penguatan produksi bibit dalam negeri, kebutuhan peternak terhadap ayam komersial diharapkan dapat dipenuhi secara lebih berkelanjutan.
Indyah menilai langkah tersebut penting agar Indonesia tidak terus bergantung pada pasokan bibit dari luar negeri dan memiliki fondasi industri perunggasan yang lebih kuat.
Modernisasi Teknologi dan Peningkatan SDM Peternak
Untuk menghadapi berbagai tantangan tersebut, Indyah menekankan pentingnya inovasi teknologi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor peternakan.
Menurutnya, peningkatan produksi harus diimbangi dengan kemampuan peternak dalam mengadopsi teknologi modern, memperbaiki manajemen usaha, serta menerapkan praktik budidaya yang lebih efektif.
Sejumlah teknologi yang telah diterapkan di Jawa Timur antara lain transfer embrio pada sapi dan inseminasi buatan. Teknologi reproduksi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas genetik ternak serta produktivitas usaha peternakan.
Pengembangan teknologi juga perlu disertai penguatan kelembagaan peternak agar inovasi dapat diterapkan secara lebih luas, termasuk oleh peternak skala kecil.
Indyah mengungkapkan bahwa sekitar 80 persen peternak di Jawa Timur merupakan peternak rakyat, terutama pada subsektor sapi dan unggas.
Karena itu, peningkatan kapasitas peternak rakyat menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi dan memperkuat daya saing sektor peternakan.
Ia menilai bahwa pengembangan SDM, pemanfaatan teknologi, serta penguatan kelembagaan harus berjalan beriringan agar peternak mampu menghadapi perubahan kebutuhan pasar dan tantangan produksi.
Sistem Digital Perkuat Pengawasan Lalu Lintas Ternak
Selain meningkatkan produksi dan memperluas pasar, Dinas Peternakan Jawa Timur juga memperkuat pengawasan terhadap lalu lintas ternak dan produk asal hewan.
Indyah menjelaskan bahwa Jawa Timur telah memiliki sistem informasi untuk mendukung pengelolaan lalu lintas ternak yang terhubung dengan wilayah lain di Indonesia.
Sistem tersebut membantu proses penelusuran pergerakan ternak sekaligus mendukung penerbitan sertifikat kesehatan hewan atau sertifikat veteriner sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui sistem tersebut, pergerakan ternak dan produk turunannya dapat diawasi secara lebih terstruktur. Langkah ini penting untuk menjaga kesehatan hewan, mencegah penyebaran penyakit, serta memberikan jaminan terhadap keamanan produk yang diperdagangkan.
Pengawasan yang baik juga menjadi salah satu faktor pendukung kelancaran distribusi komoditas peternakan antardaerah.
Tidak hanya berupa ternak hidup, produk olahan seperti nugget, sosis, dan berbagai produk turunan peternakan lainnya turut menjadi bagian dari potensi perdagangan Jawa Timur.
Menurut Indyah, penguatan sistem pengawasan dan ketertelusuran tersebut menjadi modal penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap produk peternakan Jawa Timur.
Dari Jawa Timur untuk Indonesia
Menutup paparannya, Indyah mengapresiasi dukungan Gubernur Jawa Timur dan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur dalam pengembangan sektor peternakan, khususnya untuk memperluas pemasaran produk melalui program misi dagang.
Ia menegaskan bahwa Jawa Timur memiliki potensi besar untuk terus memperkuat perannya dalam memenuhi kebutuhan protein hewani nasional.
Namun, optimalisasi potensi tersebut memerlukan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, pelaku usaha, lembaga penelitian, hingga peternak rakyat.
Pengendalian penyakit hewan, penguatan bibit unggul, peningkatan kualitas SDM, modernisasi teknologi, serta perluasan pasar domestik dan ekspor menjadi langkah strategis yang perlu terus dikembangkan.
Melalui berbagai upaya tersebut, Jawa Timur diharapkan mampu mempertahankan kapasitas produksinya, meningkatkan kesejahteraan peternak, serta memperkuat kontribusi sektor peternakan terhadap perekonomian daerah dan nasional.
Sejalan dengan tema Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur, penguatan sektor peternakan juga menjadi bagian dari upaya mewujudkan Gerbang Baru Nusantara, dengan menjadikan Jawa Timur sebagai pemasok protein hewani yang andal bagi Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing produk peternakan di pasar internasional.

















Komentar