SIGI, Central.asia — lahan persawahan di Kelompok Tani Jonuji, Desa Sibonu, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, terancam gagal panen akibat kekeringan ekstrim yang melanda wilayah tersebut sejak awal masa tanam pada Agustus 2026.
Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) setempat, Jumadil, mengungkapkan bahwa 12 desa di Kecamatan Dolo Barat saat ini mengalami krisis air parah. Sebanyak 88 petani di Desa Sibonu sangat mendesak bantuan mesin pompa air dari pemerintah pusat maupun daerah guna menyelamatkan tanaman padi yang baru memasuki usia dua bulan.
“Kami sangat butuh bantuan alat pompa air untuk menangani masalah kekeringan ini dan saat ini pihak pemerintah daerah melalui dinas terkait sangat merespon kondisi dan akan lakukan koordinasi terkait hal tersebut ,” ujar Jumadil saat dikonfirmasi, Senin (14/9).
Kendati dihadapkan pada ancaman kekeringan, para petani tetap optimistis mengejar target produktivitas nasional di bawah arahan Asta Cita Presiden Republik Indonesia. Penerapan pola tanam baru dimana Capaian tersebut mengacu pada standar produktivitas pemerintah pusat sebesar 10 hingga 12 ton per hektar yang didukung paket fasilitas lengkap meliputi pupuk kandang, pemupukan terpadu, serta pengendali hama terstandar.
Seluruh rangkaian pemeliharaan tersebut kini tengah dioptimalkan oleh 12 petugas PPL yang mendampingi petani di wilayah Dolo Barat, dinama dimulai dari penanaman hingga masa panen akan terus mendampingi para petani agar mendapatkan hasil panen yang melimpah.
Memasuki fase pemeliharaan ketat pada September ini, para petani dan penyuluh berharap pemerintah segera merealisasikan distribusi pompa air sebelum masa panen perdana tiba pada Oktober 2026 mendatang. Langkah cepat ini dinilai krusial untuk memastikan swasembada pangan di daerah tetap terjaga di tengah cuaca ekstrem. (Ali)




















Komentar